Gempa dan tsunami pada 2004 yang memporak-porandakan daerah Aceh dan Nias telah mengakibatkan longsoran dan rekahan (rupture) dalam skala besar.

Gempa dan tsunami pada 2004 yang memporak-porandakan
daerah Aceh dan Nias telah mengakibatkan longsoran dan rekahan (rupture) dalam
skala besar. Hal itu yang menyebabkan gempa susulan dalam skala kecil.

Menurut Yusuf S Djajadihardja, Direktur Teknologi Pengembangan Sumberdaya
Alam BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), kondisi seperti itu
yang menyebabkan munculnya gempa susulan dalam skala kecil.

‘Akibat gempa dahsyat sebesar 9,3 pada skala Richter di Aceh dan 8,7 di
Nias bukan hanya membuat kerusakan di darat tetapi juga di dasar laut. Di
dasar laut telah terjadi retakan karena dasar laut ada yang naik dan turun
dan membuat patahan sehingga terjadi deformasi,’ kata Yusuf pada seminar
bertema Indonesian Earthquake and Indian Tsunami 26th December 2004 yang
diselenggarakan BPPT dan JAMSTEC (Japan Agency for Marine-Earth Science and
Technology) di Jakarta, Senin.

Menurut Yusuf, hal itu dibuktikan setelah para peneliti dari Indonesia dan
Jepang melakukan pelayaran untuk melakukan penelitian selama setengah bulan.
Hasilnya telah menemukan bukti-bukti daerah rekahan yang mengindikasikan pusat
gempa. Selain itu tim survei juga telah memetakan dan merekam daerah-daerah
dasar laut yang mengalami longsoran dalam skala besar.

Penelitian bersama Jepang dan Indonesia yang menggunakan kapal Natsushima
dilaksanakan di sekitar laut Aceh dan Sumetera Utara. Misi survei kelautan
itu dibagi dua tim yaitu tim peneliti laut dalam dan tim peneliti yang bergerak
di darat untuk melihat kerusakan dan bukti-bukti ilmiah yang terjadi.

Kapal juga dilengkapi peralatan seismik refleksi atau peralatan untuk memetakan
struktur lapisan, multibeam untuk memetakan topografi bawah laut, pemasangan
Ocean Bottom Seismeter(OBS) untuk mengukur gempa susulan dan kamera bawah
laut untuk melihat visualisasi langsung permukaan dasar laut di daerah Nanggroe
Aceh Darussalam dan Sumut.

Yusuf menambahkan, mengenai datangnya gempa dan tsunami sampai sekarang
belum bisa diprediksi. Namun juga diprediksi gempa basar akan terjadi lagi
tetapi tak tahu akan terjadi di mana.

‘Berdasarkan prediksi para ahli gempa bumi yang besar di lokasi yang sama
mempunyai periodik panjang dan bisa membutuhkan waktu 200 tahunan,’ katanya.

Namun, kata Yusuf, berdasarkan pengalaman gempa dan tsunami di Aceh yang
besarnya 9,3 pada skala Richter seharusnya tidak ada gempa besar susulan,
karena energi besar telah dilepaskan. Tetapi ternyata muncul lagi gempa 8,7
pada skala Richter di Nias. ‘Hal itu tak pernah diprediksi sebelumnya,’ katanya.

Menurut Yusuf, Indonesia sekarang telah melakukan persiapan untuk menerapkan
early warning system. ‘Oleh karena itu perlu terus sosialisasi kepada masyarakat
bagaimana menghadapi gempa dan tsunami,’ katanya.

Source : www.mediaindo.co.id