Kapasitas cadangan listrik PT Perusahaan Listrik Negara unit pembangkit Jawa-Bali turun tinggal 120 megawatt dari kondisi normal 600 megawatt.

Kapasitas cadangan listrik PT Perusahaan Listrik Negara
unit pembangkit Jawa-Bali turun tinggal 120 megawatt dari kondisi normal 600
megawatt.

Menurut General Manajer Penyaluran dan Pengaturan Beban Listrik Jawa-Bali
Muljo Adji penyebabnya karena kemampuan pembangkit listrik tenaga air anjlok
hingga 40 persen. ‘Karena itu, memasuki musim kemarau ini, kami tetap meminta
pelanggan berhemat,’ kata Muljo dalam penjelasan pengamanan sistem listrik
Jawa-Bali di Jakarta, Selasa (26/7).

Untuk mengantisipasinya, PLN akan memelihara pembangkit-pembangkit besar.
Selain itu PLN akan memakai pembangkit thermal yang memakai bahan bakar minyak.
Muljo mengakui sudah menyampaikan kebutuhan bahan bakarnya ke PT Pertamina
(Persero). Diperkirakan kebutuhan minyak akan meninggkat menjadi 11 juta kiloliter.
Sekarang saja pembangkit sudah menelan minyak sebanyak 5,5 juta kiloliter.

Sementara pasokan listrik berkurang, Muljo memperkirakan kebutuhan setrum
akan meningkat memasuki Oktober. Jika selama ini beban puncak hanya 14.821
megawatt, pada Oktober bebannya melambung hingga 15.245 megawatt. ‘Penyebabnya
karena banyaknya pemakaian pendingin udara di musim kemarau,’ kata dia.

Tapi Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi dan Geofisika Darmaga,
Bogor, Widiastuti mengatakan musim kemarau tahun ini akan berjalan normal
yang dimulai bulan Mei. Menurutnya, hujan akan kembali turun pada sekitar
September, tak sampai Oktober seperti dikhawatirkan Muljo Adji.

Source : www.tempointeraktif.com