Kenaikan ini akibat disesuaikannya harga solar ke harga pasar bagi industri pertambangan oleh Pertamina sejak Juli 2005.

PT International Nickel Indonesia (Inco) Tbk yang merupakan
pemasok utama nikel di Asia, mengalami kenaikan biaya produksi US$ 0.15 per
pon. Kenaikan ini akibat disesuaikannya harga solar ke harga pasar bagi industri
pertambangan oleh Pertamina sejak Juli 2005.

‘PT Inco menargetkan mencapai tingkat produksi 2005 sebesar 160 juta pon
nikel dalam matte dan peningkatkan kapasitas produksi 25% menjadi 200 juta
pon pada 2009,’ kata Presdir PT. Inco, Bing Tobing saat public expose PT Inco
di Hotel Hilton, Jakarta, Kamis (28/7/2005).

Harga realisasi rata-rata nikel dalam matte adalah US$ 12.879 per ton (US$
5,85 per pon), pada triwulan kedua 2005. Produksi nikel dalam matte sepanjang
triwulan kedua tahun 2005 adalah 18.700 ton (41,2 juta pon).

Bing menjelaskan, saat ini PT Inco sedang menyelesaikan studi geoteknis
untuk menentukan lokasi terbaik menbangun bendungan di atas Sungai Larona
di Kerebbe. Proyek ini diperkirakan menghabiskan biaya sebesar US$ 275 juta
sampai US$ 280 juta, untuk program kenaikan produksi dalam jangka waktu empat
tahun.

‘Sepanjang triwulan ini, PT Inco mencapai kemajuan yang berarti dalam hal
operasi tambang yang baru. Kami mulai menambang di Petea, Sulawesi pada awal
Juli 2005 dan mulai mengirimkan satu juta ton per tahun biji nikel ke PT Antam
untuk dilebur di Pomalaa Timur, Sulawesi,’ tutur Bing.

Sementara itu, rencana pengembangan nikel di Bahodopi Sulawesi akan dimulai
dengan pengeboran untuk studi kelayakan dan uji metalurgi pada awal tahun
2006. Proses ini sebagai bagian dari studi awal, dimana diyakini kandungan
potensi produksi mencapai 50 ribu ton ferronickel pertahun.

‘Sementara untuk rencana pengembangan Pomalaa, Sulawesi, potensial untuk
pabrik dengan kapasitas 40 ribu sampai 50 ribu ton pertahun dan pengembangan
Sorowako Sulawesi Selatan. Serta potensi 16 ribu sampai 18 ribu ton nikel
pertahun,’ kata Bing.

Source : www.detikfinance.com