Krisis bahan bakar minyak yang terjadi pada awal Juli sangat mengganggu upaya pemulihan ekonomi. Pemerintah telah menetapkan lima langkah untuk bisa menyelesaikan krisis secara lebih fundamental.

Krisis bahan bakar minyak yang terjadi pada awal Juli
sangat mengganggu upaya pemulihan ekonomi. Pemerintah telah menetapkan lima
langkah untuk bisa menyelesaikan krisis secara lebih fundamental.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan hal tersebut saat melakukan
dialog dengan kalangan pengusaha di tempat penginapannya selama kunjungan
kenegaraan di China, Kamis (28/7).

Menurut Presiden, upaya untuk menangani kelangkaan minyak hanyalah langkah
pertama yang bersifat sementara.

Saya meminta kepada Pertamina untuk menyelesaikan terlebih dahulu soal kelangkaan
minyak. Janjinya akhir Juli akan segera tertangani dan ternyata tanggal 23
Juli lalu keadaan sudah baik, kata Presiden.

Selanjutnya Presiden mengundang kalangan dunia usaha ikut serta menyelesaikan
persoalan krisis dengan meningkatkan produksi minyak.

Selama ini produksi minyak Indonesia turun dari 1,5 juta barrel per hari
menjadi di bawah satu juta barrel.

Ajaklah partner-partner asing untuk mencari sumber-sumber minyak baru, baik
yang di darat maupun di lepas pantai. Atau bangunlah depo-depo minyak, kapal,
serta kilang untuk bisa memenuhi peningkatan kebutuhan, kata Yudhoyono.

Langkah fundamental

Setelah hal-hal yang bersikap jangka pendek diselesaikan, pemerintah mempersiapkan
langkah-langkah yang lebih fundamental.

Pertama yang harus dilakukan adalah penyesuaian harga. Suka tidak suka,
itu harus dilakukan. I have to take a risk timely (Saya akan mengambil risiko
itu pada waktunya), kata Presiden.

Selanjutnya, pemerintah akan mengurangi subsidi agar anggaran tidak hanya
habis dipergunakan untuk menyubsidi minyak, tetapi juga bisa dipakai untuk
pendidikan, kesehatan, perbaikan gaji PNS. Pemerintah juga akan melakukan
upaya penghematan energi dan diversifikasi energi. Terakhir, pemerintah akan
secara tegas menindak orang-orang yang melakukan penyelundupan.

Seorang pengusaha asal Batam mengingatkan Presiden untuk berhati-hati menaikkan
harga BBM, khususnya untuk industri, agar tidak membuat perusahaan merugi
dan bangkrut.

Masalahnya, itu akan menyebabkan kenaikan biaya hingga 20 persen, padahal
kami sudah memiliki kontrak penjualan dengan pihak di luar negeri yang berlaku
hingga tahun 2006, kata sang pengusaha.

Presiden meminta kalangan dunia usaha untuk membantu pemerintah dan menghitung
secara saksama biaya yang dikeluarkan.

Kalau ada yang mengganggu kegiatan usaha Anda, silakan kirim SMS kepada
saya untuk saya tindak, kata Presiden.

Source : www.kompas.com