Harga minyak mentah kembali melonjak dan mencapai 61 dollar AS per barrel pada penutupan perdagangan Jumat (29/7) di New York.

Harga minyak mentah kembali melonjak dan mencapai 61
dollar AS per barrel pada penutupan perdagangan Jumat (29/7) di New York.
Lonjakan harga terjadi karena pelaku pasar khawatir suplai akan menyusut akibat
ledakan kilang terbesar milik BP di Texas, Amerika Serikat. Pelaku pasar
juga bereaksi negatif akibat kebakaran di kilang kecil milik AS, di Meraux,
Louisiana, dan ledakan di kilang lepas pantai dekat Indian City di Mumbay.

Angka 61 dollar AS per barrel merupakan angka tertinggi sejak 13 Juli 2005.
Di London harga minyak laut utara brent untuk pengiriman September naik 61
sen dollar AS per barrel menjadi 59,37 dollar AS per barrel.

Sebelumnya, harga minyak di New York mencapai 62,10 dollar AS per barrel
dan 60,70 dollar AS per barrel di London setelah ledakan bom, Kamis (7/7).

Juru bicara BP Robert Wine mengatakan, kebakaran di Kilang BP di Texas terjadi
sejak Kamis malam. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Berbeda dengan
ledakan yang terjadi di kilang yang sama pada Maret lalu yang menewaskan 15
orang.

Saat beroperasi penuh, kilang milik BP dapat berproduksi hingga 460.000
barrel per hari. Akibat ledakan, kapasitas kilang turun sebanyak 60.000 barrel
per hari.

Harga minyak mentah dunia yang tetap berada di atas 60 dollar AS per barrel
akan menyebabkan kesulitan bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Indonesia.
Dengan kelebihan konsumsi bahan bakar minyak nasional 10 persen dari kuota
sebanyak 59,6 juta kiloliter dalam APBN dan harga minyak mencapai 60 dollar
AS per barrel, Pemerintah Indonesia akan menanggung subsidi Rp 150 triliun.

Dalam APBN, pemerintah mematok asumsi harga minyak mentah 45 dollar per
barrel. Dengan kurs Rp 9.300 per dollar AS, besaran subsidi BBM yang ditanggung
pemerintah mencapai Rp 76,5 triliun.

Source : www.kompas.com

Harga minyak mentah kembali melonjak dan mencapai 61
dollar AS per barrel pada penutupan perdagangan Jumat (29/7) di New York.
Lonjakan harga terjadi karena pelaku pasar khawatir suplai akan menyusut akibat
ledakan kilang terbesar milik BP di Texas, Amerika Serikat. Pelaku pasar
juga bereaksi negatif akibat kebakaran di kilang kecil milik AS, di Meraux,
Louisiana, dan ledakan di kilang lepas pantai dekat Indian City di Mumbay.

Angka 61 dollar AS per barrel merupakan angka tertinggi sejak 13 Juli 2005.
Di London harga minyak laut utara brent untuk pengiriman September naik 61
sen dollar AS per barrel menjadi 59,37 dollar AS per barrel.

Sebelumnya, harga minyak di New York mencapai 62,10 dollar AS per barrel
dan 60,70 dollar AS per barrel di London setelah ledakan bom, Kamis (7/7).

Juru bicara BP Robert Wine mengatakan, kebakaran di Kilang BP di Texas terjadi
sejak Kamis malam. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Berbeda dengan
ledakan yang terjadi di kilang yang sama pada Maret lalu yang menewaskan 15
orang.

Saat beroperasi penuh, kilang milik BP dapat berproduksi hingga 460.000
barrel per hari. Akibat ledakan, kapasitas kilang turun sebanyak 60.000 barrel
per hari.

Harga minyak mentah dunia yang tetap berada di atas 60 dollar AS per barrel
akan menyebabkan kesulitan bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Indonesia.
Dengan kelebihan konsumsi bahan bakar minyak nasional 10 persen dari kuota
sebanyak 59,6 juta kiloliter dalam APBN dan harga minyak mencapai 60 dollar
AS per barrel, Pemerintah Indonesia akan menanggung subsidi Rp 150 triliun.

Dalam APBN, pemerintah mematok asumsi harga minyak mentah 45 dollar per
barrel. Dengan kurs Rp 9.300 per dollar AS, besaran subsidi BBM yang ditanggung
pemerintah mencapai Rp 76,5 triliun.

Source : www.kompas.com