Kenaikan harga bahan bakar minyak dipastikan akan memukul kinerja industri nasional.

Kenaikan harga bahan bakar minyak dipastikan akan memukul
kinerja industri nasional. Peningkatan biaya produksi otomatis akan menekan
marjin perusahaan sehingga keuntungan akan berkurang. Persoalan ini ditambah
lagi dengan masih seretnya pasokan BBM.

”Bukan hanya harganya tinggi, suplainya juga bikin pusing. Saya baru dapat
laporan di pabrik, ada yang pasokan BBM-nya terlambat. Kenaikan harga bisa
dihitung, tetapi suplai yang seret sangat mengganggu kelancaran produksi,”
kata Direktur Keuangan PT Dynaplast Tbk Gunawan Tjokro.

Dijelaskan, sekalipun pasokan BBM tetap datang, tetapi jumlahnya tidak seperti
yang dijanjikan atau terlambat datang. ”Hingga kemarin sampai gila-gilaan.
Kami harus pakai truk bolak-balik beli untuk menjaga kelancaran produksi.
Karena tidak boleh pakai jeriken, terpaksa bolak-balik isi solar di tangki
truk,” katanya.

Sulit bersaing

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat Sintetis Indonesia (APSyFI)
Kustardjono Prodjolalito mengatakan, kenaikan harga BBM akan membuat industri
serat sintetis semakin sulit bersaing. Harga jual produk serat sintetis menjadi
tidak kompetitif, baik di pasar lokal maupun ekspor. Dikhawatirkan, hal ini
akan membuat pengusaha serat sintetis mengurangi produksi dan pengguna serat
sintetis mengimpor produk tersebut.

Kenaikan harga solar dari Rp 2.200 per liter menjadi Rp 5.480 per liter
akan membuat industri serat sintetis mengalami kenaikan lebih dari 100 persen.
Rata- rata harga penjualan serat sintetis di dalam negeri sebesar 1.300 dollar
AS per ton.

Dengan kenaikan harga solar itu, menurut dia, rata-rata kenaikan produk
serat sintetis sebesar 10 sen dollar AS per kilogram. Padahal, harga produk
serat sintetis di luar negeri—belum termasuk biaya transportasi—lebih murah
tujuh sen dollar AS per kilogram.

”Jadi, perbedaan harga serat sintetis di pasar internasional dengan harga
serat sintetis di pasar lokal sekitar 17 sen dollar AS per kg,” kata Kustardjono.

Direktur PT Panasia Indosyntec Suwadi Bing Andi mengatakan, kenaikan harga
BBM lagi-lagi jadi pukulan berat bagi pelaku industri, seperti industri tekstil.

Harga jual naik

Kenaikan harga BBM akan memicu harga jual benang sebesar Rp 400 per kg.
Sebelumnya, harga jual benang sebesar 1,4 dollar AS (Rp 13.500) per kg hingga
mencapai 1,6 dollar AS (Rp 15.200) per kg. Itu belum memperhitungkan efek
domino dari kenaikan harga BBM, yakni kenaikan kertas karton dan plastik
pendukung kemasan benang.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Daerah Jawa Barat Iwan Dermawan mengatakan,
kenaikan harga solar itu akan menambah ongkos produksi industri sekitar 20
persen. Pukulan yang paling berat adalah yang dialami oleh industri tekstil
dan logam, yang banyak menggunakan solar.

Source : www.kompas.com