Kendati sudah melakukan dialog, namun Asosiasi Industri dan PLN tampaknya belum menemukan titik temu soal tarif listrik bagi pelanggan besar saat beban puncak.

Kendati sudah melakukan dialog, namun Asosiasi Industri dan PLN tampaknya belum menemukan titik temu soal tarif listrik bagi pelanggan besar saat beban puncak. Untuk itu, Departemen Perindustrian (Depperin) minta dikeluarkan win-win solution, sehingga tidak ada satu pun yang dirugikan.

Demikian dikatakan Sekjen Depperin Agus Tjahyana usai acara dialog PLN dengan Asosiasi Industri di Kantor PLN Pusat, Jalan Trunojoyo, Jakarta Rabu (3/8/2005).

‘Semua pihak punya misi dan target, maka sebaiknya diselesaikan business to business dengan duduk bersama menentukan besaran kenaikan dan waktu pelaksanaan,’ kata Agus.

Menurutnya, yang akan merasa paling berat dengan kenaikan ini adalah industri yang beroperasi 24 jam yang tidak bisa mengalihkan beban puncaknya. PLN diminta mengerti keadaan tersebut. Industri yang beroperasi 24 jam antara lain industri pengecoran logam, kaca, dan serat sintetis.

‘Di industri, semuanya butuh persiapan, jadi tidak serta-merta keputusan langsung efektif, mereka butuh persiapan penyesuaian. Tidak bisa secara tiba-tiba memindahkan shift pola kerja, dan sebaiknya kenaikan dilakukan bertahap,’ tambah Agus.

Pengenaan kenaikan tarif pun sebaiknya tidak dipukul rata, karena industri besar memerlukan insentif.

Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka (ILMTA) Ansari Bukhari menambahkan, dalam pertemuan tadi PLN meminta masukan dari kalangan usaha dan pihak industri, bukannya menolak rencana ini, tapi minta waktu untuk penyesuaian.

‘Pengaruh kenaikan tarif ini pada biaya produksi bermacam-macam, tergantung industrinya, ada yang hanya 1 persen, ada pula yang sampai 12 persen seperti industri baja,’ kata Ansari.

Source : www.detikfinance.com