Kalangan industri keberatan atas keputusan pemerintah, dalam hal ini PT PLN mengenakan disinsentif pada beban puncak.

Kalangan industri keberatan atas keputusan pemerintah, dalam hal ini PT PLN mengenakan disinsentif pada beban puncak. PT PLN diminta arif dan mempertimbangkan kepentingan masing-masing pihak agar kehidupan bisnis dunia usaha, BUMN, dan pemerintah harmonis.

Demikian tanggapan para pengusaha yang diundang dalam sosialisasi tarif listrik, Rabu (3/8) di Jakarta.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno, masalah ini harus dimusyawarahkan. PLN selama ini kan ruginya hanya buku karena biaya penyusutan yang besar. Penyebabnya pembelian barang modal yang di-mark up. ”Untuk mengatasi itu, perpanjang tahun penyusutannya melalui kebijakan fiskal. Toh, pemerintah punya kepentingan devisa dan lapangan kerja,” katanya.

Oleh sebab itu, menurut Benny, kenapa pemerintah tidak berpikir lebih keras untuk bisa memberikan insentif bagi perusahaan yang mampu menghasilkan devisa dan memberikan dukungan pada industri yang mampu membuat lapangan kerja.

Tidak mungkin diturunkan

Sekjen Departemen Perindustrian Agus Cahyana mengingatkan, ada jenis-jenis industri yang aktivitasnya tak memungkinkan untuk mengurangi pemakaian listrik. ”Mesin pemintalan di industri tekstil itu harus beroperasi 24 jam tanpa henti. Selain itu, industri peleburan, pengolahan logam, juga perlu dipikirkan untuk tak dikenakan,” kata Agus.

Oleh sebab itu, dalam kesempatan terpisah, Menteri Negara Koordinator Bidang Perekonomian Aburizal Bakrie mengatakan, pemerintah tak akan menghalangi kalangan industri yang ingin membangun pembangkit listrik sendiri untuk memenuhi kebutuhan produktivitasnya. Dengan catatan, listrik yang dihasilkan tak dikomersilkan pada rakyat.

Apabila perusahaan ingin mengomersialkan listriknya kepada masyarakat, mereka harus izin kepada PT PLN sebagai lembaga yang memiliki kewenangan penuh dalam urusan transmisi dan distribusi listrik. ”Pemerintah hanya mengizinkan perusahaan swasta untuk bergerak di bidang pembangkitan listrik,” katanya.

Hingga hari ini sudah ada empat perusahaan yang berencana membangun pembangkit listrik sendiri, salah satu di antaranya produsen serat sintetis PT Panasia Indosyntec. Perusahaan ini tengah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap berbahan bakar batu bara yang direncanakan beroperasi awal tahun 2006.

Source : www.kompas.com