Selain dikenai tarif khusus pada waktu beban puncak, industri yang menggunakan tenaga listrik melebihi pemakaian yang disyaratkan juga akan terkena penalti.

Selain dikenai tarif khusus pada waktu beban puncak, industri yang menggunakan tenaga listrik melebihi pemakaian yang disyaratkan juga akan terkena penalti. Besarnya penalti itu mencapai dua kali tarif pemakaian pada waktu beban puncak.

Hal itu mengemuka dalam sosialisasi yang dilakukan PT PLN terhadap kalangan industri di Jakarta, Rabu (3/8). Direktur Niaga dan Pelayanan Pelanggan PT PLN Sunggu Aritonang mengatakan, penerapan penalti itu akan dikenakan kepada pelanggan bisnis (B3), industri (I2, I3, I4), dan kantor pemerintah besar (P2). ”Daya listrik maksimum yang ditetapkan PLN, 50 persen dari realisasi pemakaian daya listrik waktu beban puncak pelanggan yang bersangkutan,” katanya.

Untuk sektor industri, besarnya penalti atas kelebihan pemakaian daya listrik pada waktu beban puncak ditetapkan dua kali dari tarif pemakaian waktu beban puncak pelanggan yang bersangkutan. Pengenaan penalti akan dilakukan bersamaan dengan penetapan perhitungan tarif listrik waktu beban puncak baru terhadap industri. PLN menetapkan perhitungan tarif dengan menaikkan angka koefisien (K) dari semula 1,4 dan 1,5 menjadi 2.

Dengan demikian, apabila pada waktu beban puncak suatu industri menggunakan daya listrik dan penggunaannya melebihi kapasitas pemakaian yang ditetapkan, industri itu harus mengeluarkan biaya empat kali lipat dari biaya normal waktu beban puncak.

Ketentuan itu diharapkan dapat mendorong industri untuk mengurangi pemakaian listrik mereka saat beban puncak ke luar waktu beban puncak. Pengalihan ini akan membantu efisiensi PLN karena bahan bakar minyak yang digunakan bisa dikurangi. Tahun ini kuota BBM untuk PLN dibatasi sebesar 8,35 juta liter.

Tidak semua industri

Direktur Utama PT PLN Persero Eddie Widiono mengatakan, ketentuan itu tak akan diterapkan ke semua jenis industri. ”Mungkin industri yang orientasinya ekspor akan dikenai lebih dulu. PLN prinsipnya ingin mengajak industri berhemat, tetapi memang tidak semua industri bisa berhemat. Industri yang faktor tenaga listrik dalam komponen biaya produksinya tidak terlalu besar dimohon kesediaannya untuk mengemban biaya yang lebih besar,” ujarnya.

Dengan menaikkan angka koefisien menjadi 2, pelanggan industri yang memakai listrik pada beban puncak harus membayar dua kali lebih mahal. Dampaknya, industri tersebut harus membayar biaya tenaga listrik 20 persen lebih mahal dari biasanya.

Eddie mengatakan, upaya-upaya penghematan bersama pelanggan semacam itu terus diupayakan oleh PLN. ”Terakhir, kalau tidak cukup juga untuk menutup biaya produksi listrik, PLN akan mohon kepada pemerintah untuk menaikkan subsidi atau naikkan tarif,” kata Eddie.

Source : www.kompas.com