Karena itu, ia menyarankan, pemerintah sebaiknya mematok harga BBM pada APBN tahun depan dengan harga sama.

Pengamat perminyakan Kurtubi memprediksi harga minyak mentah dunia bisa mencapai harga US$ 70 per barel. Karena itu, ia menyarankan, pemerintah sebaiknya mematok harga BBM pada APBN tahun depan dengan harga sama. ‘Itu lebih realistis,’ kata Kurtubi, Rabu (3/8).

Kurtubi mengatakan, melonjaknya harga minyak lantaran kenaikan permintaan dunia dari 82 juta barel per hari menjadi 82,5 juta barel pada triwulan terakhir tahun ini. Di sisi lain, penambahan produksi tidak banyak sebab pasokan produksi dari Rusia, Anggola, Inggris, dan Norwegia menurun. ‘Lebih baik dipatok tinggi, lalu turun, daripada stuck.’

Pada pandangannya, selama ini asumsi harga BBM di APBN masih terlalu rendah. Dengan asumsi harga rendah, dana subsidi BBM diperkirakan meningkat sampai Rp 140 triliun pada tahun ini.

Masyarakat juga perlu mengetahui kondisi minyak Indonesia yang parah dan ketergantungan impor yang besar. ‘Subsidi harus dikurangi secara bertahap.’

Untuk meningkatkan efisiensi, kata dia, Pertamina perlu mempertahankan diri dalam pola terintegrasi skala besar. Penggunaan perantara dalam penjualan dan pembelian minyak harus dihilangkan. Sebab perantara tidak memiliki aset dan berorientasi mencari keuntungan semata. Selain itu, pemangkasan perantara membuat mata rantai lebih pendek, sehingga mampu menghindari kebocoran. ‘Lebih baik Pertamina bekerja sama dengan negara-negara anggota OPEC sehingga pembicaraan berlangsung antarperusahaan negara.

Source : www.tempointeraktif.com