Dunia industri yang semenjak 1 Agustus 2005 dikenakan harga pasar oleh Pertamina. Bahkan tarif listrik pada waktu beban puncak mulai 1 September akan dinaikkan. Karena itu, mereka mulai berancang-ancang untuk gunakan energi alternatif yaitu batu bara.

Dunia industri yang semenjak 1 Agustus 2005 dikenakan harga pasar oleh Pertamina. Bahkan tarif listrik pada waktu beban puncak mulai 1 September akan dinaikkan. Karena itu, mereka mulai berancang-ancang untuk gunakan energi alternatif yaitu batu bara.

‘Sekitar 30 persen industri tekstil mulai berpikir beralih gunakan batubara sebagai energi boiler,’ kata Dirjen Industri Logam Mesin tekstil dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian, Ansari Bukhari kepada detikcom di kantornya, Jl. Gatot Subroto, Jakarta (4/8/2005).

‘Saya yakin industri besar yang gunakan listrik di atas
20 megawatt pasti kecenderungannya ke arah sana karena industri realistis mencari harga yang ekonomis,’ tambah Ansari.

Saat ini, setidaknya sudah ada 4 perusahaan tekstil yang mulai membangun sendiri pembangkit listrik tenaga uap (PLTU)berbahan bakar batu bara. Mereka antara lain PT. Panasia Indosyntec yang sudah mulai meratakan tanah untuk pembangunan PLTU.

‘Bila mereka kelebihan produksi listriknya dapat menjual listriknya ke PLN seperti Krakatau Steel,’ ujarnya. Nilai membangun pembangkit dari data yang diperoleh dari Koneba (konservasi energi abadi) membutuhkan dana Rp 300 milyar.

Mengenai reaksi kalangan usaha yang mengatakan akan berdampak pada pemecatan besar-besaran bila PLN jadi menaikan tarif listrik, Ansari menganggap hal itu reaksi kepanikan industri. ‘Kami akan mengikuti keputusan PLN karena tidak punya bargain dan menaikan tarif adalah kewenangan PLN,’ tandas Ansari.

www.detikfinance.com