Target menurunkan pemakaian bahan bakar minyak untuk pembangkit listrik di Jawa- Bali sampai nol persen pada pertengahan tahun 2006 sulit untuk direalisasikan.

Target menurunkan pemakaian bahan bakar minyak untuk pembangkit listrik di Jawa- Bali sampai nol persen pada pertengahan tahun 2006 sulit untuk direalisasikan. PT PLN baru bisa menekan pemakaian BBM kurang dari 50 persen tahun depan.

Manajer Umum PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa-Bali Muljo Adji mengemukakan hal tersebut, Sabtu (6/8) di Jakarta. ‘PLN terus mengupayakan pemakaian BBM bisa dikurangi, tetapi hanya bisa dilakukan secara bertahap,’ kata Muljo.

Sebelumnya, saat bertemu dengan kalangan usaha pekan lalu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Aburizal Bakrie mengatakan bahwa pemerintah menargetkan pertengahan tahun 2006 seluruh pembangkit listrik di Jawa dan Bali sudah bebas BBM. Bahan bakar pembangkit listrik tersebut diharapkan sudah dikonversi dengan batu bara dan gas alam sebagai pengganti solar.

Penggunaan batu bara dan gas alam secara besar-besaran ini merupakan salah satu implementasi kebijakan strategi energi baru yang diterapkan pemerintah untuk mengatasi kelangkaan BBM sebagai dampak kenaikan harga minyak mentah di pasar dunia.

Implementasi strategi energi baru yang akan diterapkan pemerintah adalah dengan mengekspor produksi minyak mentah dalam negeri karena harganya lebih mahal. Sedangkan produksi batu bara dan gas alam akan dipakai sendiri untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, termasuk PLN dan kebutuhan bahan bakar industri.

Penggunaan batu bara dan gas alam sebagai bahan bakar industri ini diperkirakan dapat menekan biaya produksi hingga 30 persen dibandingkan dengan pemakaian bahan bakar minyak yang disubsidi pemerintah.

Saat ini penggunaan BBM sebagai sumber energi primer untuk pembangkit tenaga listrik di Jawa-Bali masih cukup besar. Sejumlah pembangkit listrik tenaga gas masih menggunakan solar karena belum mendapat jatah pasokan gas. Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) juga masih menggunakan marine fuel oil (MFO) untuk menutup kekurangan pasokan batu bara.

Berdasarkan data PLN, tahun 2005 pemakaian solar untuk pembangkit listrik tenaga gas dan uap di Jawa-Bali sebesar 6,54 juta kiloliter, sedangkan MFO sebesar 2 juta kiloliter. Pada tahun 2006 PLN menargetkan pemakaian kedua jenis bahan bakar minyak itu bisa diturunkan masing-masing menjadi 3 juta kiloliter dan 790.000 kiloliter.

Pemakaian BBM untuk pembangkit akan terus ditekan hingga porsinya tinggal 10 persen pada tahun 2008. Muljo mengatakan, target tersebut baru dapat dicapai dengan catatan sejumlah kondisi pendukungnya terpenuhi, yaitu PLTU yang baru beroperasi sesuai dengan jadwal, jalur transmisi Jawa bagian selatan bisa tersambung, dan pasokan gas dari Perusahaan Gas Negara (PGN) maupun pemasok lain bisa diberikan.

PLTU Tanjung Jati B, PLTU Cilegon, dan PLTU Cilacap dijadwalkan beroperasi tahun depan, kata Muljo.

Dari sisi pemenuhan gas, pihak PGN memastikan belum mampu memenuhi kebutuhan gas PLN pada tahun 2006. Staf Humas PT PGN, Agus Dihardjo, mengatakan, jalur transmisi gas dari Sumatera Selatan ke Jawa Barat baru akan selesai Oktober 2006.

Itu pun diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan industri di Jawa Barat. PLN terpaksa menunggu jalur transmisi fase kedua yang baru akan selesai sekitar awal tahun 2007, kata Agus.

Source : www.kompas.com