Penetapan kuota dilakukan karena pasokan gas yang diterima dari sejumlah lapangan gas di Jawa terus menurun.

PT Perusahaan Gas Negara membatasi penggunaan gas untuk industri di Jawa sejak 1 Agustus 2005. Penetapan kuota dilakukan karena pasokan gas yang diterima dari sejumlah lapangan gas di Jawa terus menurun.

Demikian dikemukakan staf Humas PT PGN, Agus Dihardjo, Sabtu (6/8). Kami terpaksa memberlakukan kuota karena gasnya tidak cukup. Di Jawa Barat, misalnya, pasokan gas yang didapat PGN dari Pertamina maupun BP West Java terus berkurang, kata Agus.

Pengurangan pasokan gas dikeluhkan oleh sejumlah industri di Jabar maupun Jawa Timur. Sebuah industri keramik di Jawa Timur terpaksa beralih menggunakan solar karena pasokan gas juga langka (Kompas, 4/8). Kalangan industri keramik juga mengeluhkan turunnya tekanan gas yang mengakibatkan proses pembakaran tak bisa dilakukan.

PGN membeli gas dari sejumlah perusahaan, seperti Pertamina, BP, ConocoPhillips, dan EMP Kangean, lalu menjualnya untuk kebutuhan gas industri maupun rumah tangga di Jawa. Di kawasan industri Jabar, PGN mempunyai lebih dari 100 pelanggan termasuk industri besar, seperti Krakatau Steel dan PT Pupuk Kujang.

Menurut Agus, pasokan gas yang didapat PGN terus menurun dari 120 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) menjadi hanya sekitar 80 MMSCFD, sementara permintaan gas oleh industri terus meningkat.

Oleh karena itu, sejak 1 Agustus lalu PGN mengurangi pasokan gas dan menetapkan kuota kepada industri. Agus mengatakan bahwa kebijakan ini sudah disosialisasikan. Penetapan kuota dilakukan sesuai dengan besaran kontrak yang disepakati oleh PGN dengan masing-masing industri.

Pemakaian gas industri dibatasi 75 persen dari jatahnya. Apabila batas itu dilewati, industri dikenai tarif yang lebih tinggi. PGN menjual gas berdasarkan nilai kalorinya. Harga jual gas berbeda-beda sesuai jenis industri dengan harga sekitar 3 dollar AS per MMBTU. Akibat, kondisi ini, memang ada sejumlah industri yang beralih ke bahan bakar minyak, kata Agus.

Diperkirakan, kekurangan pasokan gas untuk Jawa baru teratasi jika pipa gas dari Sumatera Selatan ke Jabar selesai. Pipa gas Sumsel-Jabar rampung pada Oktober 2006. Kapasitas pipa lebih besar, yakni 520 MMSCFD. Sumber gas dari lapangan ConocoPhillips 170-400 MMSCFD dan Pertamina 150-250 MMSCFD.

Kalau transmisi SSWJ sudah tersambung, pasokan untuk industri di Jawa Barat akan aman karena cadangan gas di Grissik, Jambi, maupun Pagar Dewa, Muara Enim, sangat besar, kata Agus.

Source : www.kompas.com