Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan seputar welding electrode.

Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan seputar welding electrode.

  1. Apa yang menjadi dasar pemilihan Welding Electrode (WE) dalam setiap pekerjaan fabrikasi selain jenis logam yang akan di-weld dan jenis pengelasan yang digunakan?
  2. Bagaimana mengetahui tanda-tanda WE yang baik? Dan jenis test apa saja yang perlu dilakukan?
  3. Bagaimana mengetahui kekuatan sambungan yang dilas? Memang dari WE itu sendiri bisa diketahui Tensile Stress-nya. Tapi bagaimana kalau bagian yang dilas itu juga mengalami Beban Transversal, Beban Puntir (Twist) dan Beban Tarik (Contohnya pada chassis kendaraan)?
  4. Bagaimana menentukan pola lasan? Apakah las penuh atau intermitten? Dan tebal fillet lasan?
  5. Bagaimana mengetahui kualitas lasan melalui inspeksi visual?
  6. Jenis logam apa saja yang bisa di Pre-Heat atau di PWHT?

Memang, kita seringkali dihadapkan pada material-material yang exotic. Namun yang dapat menjadi pedoman :

  1. Ketahui dahulu chemical comp dari material yang akan dilas. Cocokkan dengan chemical composition TIG filler rod/welding electrode (biasanya berdasarkan range kimia yg persis / mendekati, sebaiknya jangan downgrade).
  2. Tanda-tanda electrode yang baik ini banyak aspeknya, salah satunya ketika dilas electrode/filler rod yang bagus, wasted yang terbuang sangat minim. Sebaiknya mencari electrode rutile coating (electrode ini tidak mudah menyerap air dan mudah dalam penyimpanannya).

Cara pemilihan elektroda biasanya di kombinasikan dengan material, Sebelumnya harus diketahui spesifikasi dari material terlebih dahulu. Yaitu, harus dilihat Pno material tersebut, baru kemudian mencari elektroda yang cocok berdasarkan Pno material. Hal ini bisa dilihat di ASME section IX di QW-432. Selain itu dapat dilihat dari kesulitan treatment handling dari electroda yang akan dipilih, weld deposition rate-nya, kemampuan elektroda dalam aplikasi pengelasan, kemudian kemampuan elektroda untuk dipakai dalam mengelas pada semua posisi pengelasan.

Pilihlah jenis elektroda yang memiliki deposition rate yang sama (biasanya dari merek yang sama). Perbedaan deposition rate ini disebabkan oleh stabilitas busur dari jenis electrode yang dihasilkan dari manufacturer kawat las dan formulasi dari fluks-nya.

Selain itu, dalam melakukan pemilihan electrode (dalam hal ini bukan jenis filler) ada beberapa parameter yang perlu dicermati yaitu :

  1. Material.(Hal yang paling pokok).
  2. Proses Pengelasan yang digunakan.
  3. Posisi Pengelasan.

POSISI PENGELASAN merupakan suatu hal yang cukup signifikan didalam melakukan pemilihan elektroda dimana elektroda dapat dibedakan menjadi beberapa kategori jika pengelasan ini diaplikasikan pada material MILD STEEL (CARBON STEEL). Type FAST FREEZE (E.6010) ; FILL FREEZE (E.6013) ; FAST FILL (E.6020) dan Type LOW HYDROGEN (E.7018).

Untuk mengetahui kekuatan sambungan las adalah dengan mekanikal test (Tensile, Bending test atau ditambah twist test untuk beban puntir/twist). Inti dari pengujian kekuatan pada pengelasan sebenarnya diaplikasikan pada Prosedur Pengelasan dimana parameter yang diambil untuk pengujian kekuatan terletak pada TENSILE STRENGTH dari material kawat las tersebut. Dan rata-rata standard mengaplikasikannya seperti itu. Tetapi perlu diingat ada beberapa CODE atau Standard parameter berbasis pada YIELD STRENTGH dari material kawat las tersebut. Hal ini biasanya diaplikasikan pada standard PIPELINE (API Std. 1104). Korelasi dengan kekuatan lainnya seperti Beban puntir, Transversal dsb. Sebenarnya terletak pada perhitungan Design dari equipment tersebut. Dan sudah banyak guide atau standard yang dapat dijadikan referensi perhitungan ini. Ada satu hal yang perlu dicermati didalam kita mendesign suatu equipment atau produk jasa yaitu WELDABILITY dari material yang akan dipakai untuk membuat peralatan tersebut.

Menentukan pola lasan adalah dari spesifikasi design. Harus dihitung berapa minimum fillet length (panjang effektif lasan fillet) dan dimensi las-nya atau fillet weld size ini diatur di code / standard misal AWS D1. Pola lasan dalam hal ini sambungan Lasan banyak macam dan type apakah dalam bentuk BUTT JOINT atau FILLET JOINT. Penentuan type ini bisa ditentukan melalui ; PERHITUNGAN DESIGN ; APPLICATION CODE atau STANDARD dan FUNGSI DARI EQUIPMENT tersebut.

Pengetesan biasanya test mekanikal dan radiography. Untuk test ini bisa ditanyakan lebih jelas kepada pakar yang kompeten di bidang ini. Kalau untuk mengetahui kualitas las hanya melalui inspeksi visual, agak sulit mengetahuinya. Namun berdasarkan pengalaman di lapangan, selama tidak ada undercut dan porosity hasil las secara visual sudah bagus.

Uji yang akan digunakan tergantung dari syarat yang diharuskan oleh Standard yang dipakai, bisa Visual,RT, UT, PT/MT, mechanical test. Visual inspeksi guiding-nya bisa dilihat di EN 970 untuk standard visual inspeksi dan EN 25817 standard for Quality Level.

Pengujian ada 2 kategori meliputi :

Pengujian PROSEDURE PENGELASAN (WPS/PQR) meliputi :

  1. Pengujian Tarik.
  2. Pengujian Bending.
  3. Pengujian Nick Break.
  4. Makro Etsa.
  5. Impact Test.

Jenis pengujian diatas adalah pengujian yang sering ditemui pada saat kita melakukan pengujian WPS/PQR.

Pengujian ELECTRODE atau MATERIAL PENGELASAN meliputi :

  1. Chemical Composition.
  2. Pengujian Tarik dan Bending.
  3. Radographic Test.
  4. Moisture Test (jika type electrodenya adalah Low Hydrogen).
  5. Impact Test.

Kedua jenis pengujian ini sifatnya tidak mengikat tergantung dari jenis electrode, diameter electrode dan standard yang diaplikasikan pada electrode tsb. Tidak menutup kemungkinan didalam jenis pengujian yang ada pada Material pengelasan diapplikasikan pada pengujian Prosedure Pengelasan.

Jenis Logam yang perlu dipre-heat ditinjau dari aspek %C content dalam material (semakin tinggi kandungan karbon semakin tinggi pula temperatur preheat-nya), kemudian dari Aspek tebal material yang akan di las, dan dari aspek internal stress akibat cold working dari material yang akan di las. Semua jenis LOGAM FERROUS bisa dilakukan Preheat dan PWHT kecuali untuk jenis STAINLESS STEEL. Parameter dari penentuan ini bisa kita ambil dari CARBON EQUIVALENT dan KETEBALAN dari material yang akan di welding.