Langkanya pasokan gas untuk industri pupuk dan keramik merupakan bukti bahwa pemerintah tidak memiliki kebijakan yang harmonis.

Langkanya pasokan gas untuk industri pupuk dan keramik merupakan bukti bahwa pemerintah tidak memiliki kebijakan yang harmonis. Semua itu terjadi akibat kuatnya ego sektoral tiap departemen. Dampaknya, kebijakan menjadi tumpang tindih dan merugikan kepentingan ekonomi nasional.

Untuk mengeliminasi ketidakharmonisan itu, menurut peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Faisal Basri, tidak ada cara lain selain mengefektifkan fungsi tim deregulasi yang harus dikomandani Menko Perekonomian. Tugas tim deregulasi adalah menelaah kebijakan yang tumpang tindih menjadi harmonis sehingga iklim bisnis menjadi kondusif.

‘Peran Menko Perekonomian harus kuat dan memahami akar masalah. Jangan sampai industri yang justru memberikan kontribusi besar dalam perolehan devisa, membuka lapangan kerja, dan potensi pembayar pajak harus tutup hanya karena kebijakan yang tidak berpihak,’ kata Faisal.

Anggota Komisi VI DPR, Didik J Rachbini, menyatakan, kondisi saat ini akibat kesalahan kebijakan penjualan gas dan antisipasi kebutuhan dalam negeri yang tidak tepat. Indonesia membuat kontrak-kontrak penjualan gas keluar negeri yang sangat merugikan hanya karena mengejar perolehan devisa dalam waktu cepat. ‘Harga gas sekarang delapan hingga sembilan dollar AS, tetapi kita masih jual dengan harga dua hingga tiga dollar AS. Transaksi penjualan gas ke China adalah salah satu contoh paling nyata dari ketidakpandaian itu,’ ujarnya.

Untuk mengatasi situasi dalam jangka pendek, lanjut Didik, tidak ada jalan lain bagi industri kecuali melakukan diversifikasi sumber energi. Dalam jangka menengah, Pertamina sebagai pemegang otoritas gas harus mendahulukan kebutuhan dalam negeri dan menjualnya dengan harga pasar. Selain itu, mencari sumber-sumber baru dan melakukan efisiensi.

Di sini pemerintah diuji kepiawaiannya, yaitu melakukan kombinasi perencanaan dan keahlian teknis, kata Didik lagi.

Lempar tanggung jawab

Upaya penyelesaian kemelut gas yang merugikan industri itu tampaknya semakin tidak jelas dari selesai. Hal tersebut disebabkan sikap kontraktor bagi hasil (KPS) dan Pertamina sebagai penghasil gas serta Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai distributor saling lempar tanggung jawab.

Juru Bicara Pertamina Muhammad Harun mengatakan, produksi gas mengalami penurunan secara alami. Produksi gas Pertamina untuk Jawa Barat memang mengalami penurunan karena ada lapangan di Subang yang sedang over haul sehingga (produksi Red) turun dari 98 juta standar kaki kubik (mmscfd) menjadi 80 mmscfd. Penurunan itu sudah diketahui oleh PGN. Semestinya mereka menyesuaikan, jangan menambah pelanggan terus, kata Harun.

Akan tetapi, General Manajer Strategi Bisnis PGN Wilayah Jawa Bagian Timur Trijono mengatakan, masalah kekurangan pasokan gas di Jawa ini tidak bisa hanya diatasi oleh PGN. Masalah ini harus dibicarakan dengan BP Migas, Menteri ESDM, dan KPS-KPS.

Pasokan gas yang diterima PGN terus turun dan semakin parah dalam 11 bulan terakhir. Yang menentukan kuota adalah BP Migas. Kalau PGN mengambil gas kurang dari kuota yang ditetapkan dalam kontrak, maka akan kena penalti. ‘Apabila lebih, PGN kena harga lebih tinggi. Jika mereka tak mampu memenuhi pasokan, tidak ada penalti karena dianggap sudah melakukan yang terbaik,’ kata Trijono.

Kondisi itu memaksa PGN menerapkan kuota gas kepada industri yang pemakaiannya lebih dari 100.000 meter kubik per bulan. Dari 205 industri di Jawa Timur, ada 77 yang dikenai kuota. Di Jawa Timur, PGN mendapat pasokan dari EMP Kangean, Lapindo Brantas, dan Kodeco.

Direktur PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk Henry Kembaren mengatakan, kelangkaan gas membuat perusahaan tidak berani ekspansi. Sering kali tekanan pasokan gas berada di bawah 1 bar. Padahal, untuk bisa digunakan dalam produksi, dibutuhkan tekanan gas minimum 2 bar. Untuk mengatasi kekurangan gas, manajemen berusaha melakukan berbagai upaya penyesuaian, yaitu dengan hanya menggunakan mesin pembuat bubuk bahan keramik pada siang hari saja sehingga malam hari seluruh gas bisa digunakan untuk mesin pembakaran.

Source : www.kompas.com