PT Perusahaan Listrik Negara menargetkan penurunan konsumsi listrik sebesar 1.000 megawatt atau setara dengan penghematan Rp 5 miliar per hari melalui program penghematan listrik.

PT Perusahaan Listrik Negara menargetkan penurunan konsumsi listrik sebesar 1.000 megawatt atau setara dengan penghematan Rp 5 miliar per hari melalui program penghematan listrik. PLN mengharapkan dapat mencapai target itu dengan memberikan insentif bagi industri yang mengonsumsi listrik lebih sedikit saat beban puncak.

Direktur Utama PLN Eddie Widiono di Jakarta, Senin (8/8), mengungkapkan, program penghematan listrik yang tengah dilakukan saat ini telah menurunkan konsumsi listrik sebesar 500 megawatt (MW) atau setara dengan penurunan biaya operasi senilai Rp 2,5 miliar per hari. Kurva konsumsi listrik terus menurun semenjak penghematan bahan bakar minyak (BBM) dilakukan sehingga PLN menargetkan penghematan daya sebesar 1.000 MW per hari.

Target itu akan turun lagi jika kami tidak mengingatkan masalah penghematan, kata Eddie.

Menurut dia, pihaknya menawarkan insentif bagi industri yang mengurangi konsumsi listrik pada saat beban puncak, yakni pada pukul 17.00-21.00. Industri yang tak mengurangi konsumsi listrik pada saat beban puncak akan membayar 25 persen lebih tinggi dibandingkan dengan pembayaran normal, sedangkan yang mengurangi konsumsinya akan membayar rekening yang lebih rendah.

Sekarang kami memberikan insentif pada saat beban puncak. Kalau mereka (konsumen industri) tidak mengurangi pemakaian, akan terkena biaya tambahan pada rekening sebesar 25 persen. Tetapi, kalau menurunkan konsumsi listrik pada beban puncak rekeningnya akan turun, kata Eddie.

Menurut dia, pihaknya mengharapkan konsumsi listrik pada saat beban puncak akan berkurang sehingga kurva pemakaian daya akan mendatar. PLN telah menyampaikan keinginannya itu kepada kalangan industri, terkait dengan program penghematan bahan bakar minyak.

Kami sudah konsultasi mengenai kenaikan harga BBM dengan kalangan industri. Kalau soal kenaikan tarif dasar listrik, itu menjadi keputusan pemerintah. Kami tengah berdialog untuk mencari jalan tengah. Kami tidak ingin program hemat energi gagal. Kami juga tidak ingin mengganggu produksi, aturan dasarnya ada dan akan kami bicarakan secara bisnis, kata Eddie.

Bahan bakar gas

Eddie mengatakan, pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk menggantikan bahan bakar minyak yang digunakan saat ini untuk menggerakkan pembangkit listrik dengan bahan bakar gas. Persoalannya, gas belum dapat digunakan saat ini karena masih ada mesin-mesin yang dapat merespons secara cepat dengan menggunakan BBM.

Kami tidak bisa menggunakan batu bara pada saat beban puncak karena energi batu bara itu tidak dapat dipakai dengan cepat, padahal mesin-mesin yang digunakan dapat menghasilkan listrik dengan cepat. Pada saat beban puncak, hanya gas yang dapat menggantikan bahan bakar dengan cepat, kata Eddie.

Laporan pemerintah tentang Pelaksanaan APBN Semester I 2005 menyebutkan, realisasi subsidi pengadaan listrik melalui PLN hingga Juni 2005 mencapai Rp 784,8 miliar atau 19,67 persen dari target yang ditetapkan Rp 3,99 triliun.

Source : www.kompas.com