Jika perhitungannya bisa disepakati, PLN akan mendapatkan kembali jatah gasnya pada bulan Juli 2006.

Perusahaan Gas Negara setuju mengalihkan jatah gas PLN kepada industri dan membayar bunga atas selisih waktu penyaluran gas kepada PLN. Jika perhitungannya bisa disepakati, PLN akan mendapatkan kembali jatah gasnya pada bulan Juli 2006.

Demikian dikemukakan Direktur Utama PGN Washington MP Simandjuntak di Jakarta, Selasa (9/8). Itu bisa dilakukan, tetapi perhitungannya baru mau kami lakukan, katanya.

Dari total kebutuhan gas industri saat ini, menurut dia, sebesar 120 juta kaki kubik per hari, yang terpenuhi baru 85 juta kaki kubik. Kekurangan sekitar 35 juta kaki kubik itu akan bisa ditutup dengan jatah PLN yang sebesar 45 juta kaki kubik per hari.

Sebesar 80 persen dari konsumsi gas nasional ada di Pulau Jawa. Padahal, cadangan gas di Pulau Jawa ada di Jawa Timur dengan cadangan yang kecil dan tempat terpencar-pencar. Cadangan gas yang besar ada di Sumatera dan Kalimantan. Masalahnya, pembangunan jaringan transmisi gas dari Sumatera dan Kalimantan ke Jawa belum selesai.

Hal itu pun dikemukakan Menteri Perindustrian Andung Nitimihardja. Namun, ia mengingatkan, penggantian pemakaian bahan bakar gas menjadi BBM hanya sementara sampai masalah kekurangan gas untuk industri dapat teratasi. Jadi, PLN tak selamanya akan mengurangi pemakaian gas.

Namun, Andung belum dapat menyebutkan berapa banyak gas alam yang bisa diperoleh dari jatah PLN untuk membangkitkan listrik. Selain itu, belum dihitung berapa besar beban tambahan yang akan diderita PLN saat harus mengganti gas ke BBM.

Mendukung

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengatakan, untuk sementara mendukung langkah pengalihan itu. Kelebihan pemakaian BBM yang dibeli PLN dengan harga pasar akan mendapat penggantian sesuai harga subsidi dari pemerintah, katanya.

Menurut dia, pasokan gas untuk ekspor tak bisa dialihkan karena terikat kontrak ekspor. Saat ini 55 persen gas yang diproduksi KPS dan Pertamina masih diekspor, sisanya 45 persen dipakai untuk kebutuhan dalam negeri.

Mengenai kecukupan gas, tergantung ada tidaknya infrastruktur untuk mengalirkan gas. Sebagai contoh, industri di Batam justru kelimpahan gas karena terlewati pipa gas ke Singapura. Kenapa kontraktor memilih membangun lebih dulu jaringan gas ke sana karena ada pasarnya, kata Purnomo.

Kekurangan pasokan gas diakui oleh Washington. Menurut dia, pasokan gas menurun sebesar 30 persen dari pasokan normal yang mencapai 120 juta kaki kubik per hari. Pasokan akan kembali normal pada Juli 2006 karena pada saat itu PGN akan menerima pasokan dari perusahaan eksplorasi gas Santos 100 juta kaki kubik per hari.

Saat ini penurunan pasokan gas mencapai 85 juta kaki kubik hingga 90 juta kaki kubik per hari. PGN telah menjelaskan kepada berbagai asosiasi industri pengguna gas bahwa penurunan pasokan itu terjadi akibat berkurangnya produksi di ladang-ladang gas. Kami sudah panggil asosiasi-asosiasi industrinya dan menjelaskan, jika dari hulu turun 30 persen, otomatis gas kami bagi rata pada mereka. Masing-masing pabrik besarannya berbeda. Akibatnya, ada beberapa perusahaan yang memutuskan untuk membeli BBM yang mahal atau mengurangi produksi. Itu memang dilemanya, kata Simandjuntak.

Source : www.kompas.com