Harga minyak mentah dunia terus meroket dan menyentuh level US$ 66 per barel. International Energy Agency (IEA) menuding rendahnya kapasitas produksi OPEC sebagai pemicu lonjakan harga minyak dunia.

Harga minyak mentah dunia terus meroket dan menyentuh level US$ 66 per barel. International Energy Agency (IEA) menuding rendahnya kapasitas produksi OPEC sebagai pemicu lonjakan harga minyak dunia.

Pada perdagangan Rabu (11/8/2005) di New York, harga minyak mentah jenis light untuk kontrak September sempat menyentuh level US$ 66 per barel. Namun akhirnya harga minyak ditutup di level US$ 65,80 per barel, atau naik 90 sen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Sementara di London, minyak mentah jenis brent untuk kontrak September juga sempat menyentuh level US$ 65,66 per barel, sebelum akhirnya ditutup di level US$ 65,38 per barel. Level tersebut berarti naik 1,39 dolar dibandingkan perdagangan sebelumnya.

‘Pasar akan terus mencoba dan melewati level tertinggi sepanjang sejarah,’ kata analis dari Global Insight, Simon Wardell, seperti dilansir AFP, Jumat (12/82005).

‘Harga minyak sekarang tengah mencari sebuah level harga yang dapat menghalangi permintaan yang tinggi. Namun sepertinya kami belum berhasil mencapai level tersebut, sehingga harga minyak akan terus meningkat,’ tambah Wardell.

Ia menambahkan, permintaan minyak tanah dan bensin di AS kemungkinan menjadi faktor yang paling mengkhawatirkan saat ini. Diperkirakan tingginya permintaan BBM AS itu akan terus menjadi masalah mengingat ada sejumlah masalah di kilang AS yang tidak akan dapat dipecahkan secara cepat.

Dengan level US$ 66 per barel ini, harga minyak berarti sudah melonjak 42 persen dibandingkan tahun lalu di New York. Bahkan untuk jenis brent sudah melonjak hingga 50 persen.

Namun harga minyak saat ini masih lebih rendah jika dibandingkan saat Revolusi Iran tahun 1979 dan jika dilakukan penyesuaian berdasarkan inflasi dengan kurs mata uang sekarang, maka harga minyak terhitung di level US$ 80 per barel.

‘Pasar masih berada pada kondisi bulish dalam jangka menengah. Dan tidak ada alasan kenapa harga minyak tidak mungkin mencapai level US$ 70 per barel,’ kata analis dari sebuah pialang Eropa.

Source : www.detikfinance.com