Inpres No 10 Tahun 2005 tentang hemat energi tampaknya betul-betul mandul. Buktinya, sejak Inpres dikeluarkan 10 Juli lalu, konsumsi BBM bukannya berkurang, malah terjadi peningkatan.

Inpres No 10 Tahun 2005 tentang hemat energi tampaknya betul-betul mandul. Buktinya, sejak Inpres dikeluarkan 10 Juli lalu, konsumsi BBM bukannya berkurang, malah terjadi peningkatan.

Berdasarkan data dari Pertamina, selama Mei, konsumsi premium mencapai 45 ribu kiloliter. Angka konsumsi Pertamina terus merangkak naik, dan pada Juli mencapai 48 ribu kiloliter dan Agustus 50 ribu kiloliter.

Sementara konsumsi solar selama Mei mencapai 64 ribu kiloliter. Setali tiga uang, konsumsi solar juga terus meningkat yakni Juli mencapai 69 kiloliter dan Agustus 73 kiloliter. Total pemakaian BBM selama Juli per harinya mencapai 170 ribu liter dan pada Agustus 182 ribu liter.

Total pendistribusian BBM Pertamina selama Juli sudah mencapai 37,3 juta kiloliter. Padahal dalam APBN 2005 kuota BBM Pertamina 59,6 juta kiloliter.

‘Ini memang tidak ada kelangkaan karena impor Pertamina ditingkatkan, tapi bukan berarti BBM dihambur-hamburkan,’ kata Kepala Humas Pertamina M Harun di kantornya, Jalan Perwira, Jakarta, Kamis (11/8/2005).

Harun menilai, upaya yang paling efektif menekan konsumsi adalah menaikkan harga karena masyarakat Indonesia sensitif terhadap harga. Ditambahkan, stok BBM nasional juga berangsur membaik, dan hari ini mencapai 20,6 hari.

Khusus permintaan BBM industri, menurut Harun, cukup stabil. Kenaikan justru datang dari PLN karena pada saat harga BBM naik, industri banyak beralih menggunakan listrik. ‘Padahal di beberapa pembangkit PLN menggunakan BBM,’ ujarnya.

Diperkirakan, permintaan BBM selama semester II lebih besar dibanding semester I sehubungan banyaknya hari raya.

BBM Bersubdisi Industri

Mengenai batasan BBM bersubsidi untuk industri antara lain UKM dan industri perikanan, Harun menjelaskan bahwa ada sedikit perubahan batasan. Batasan harga subsidi untuk 24 kiloliter per bulan dinaikkan batasnya menjadi 25 kiloliter per bulan.

‘Jadi industri yang masih dikenai harga subsidi kalau pemakaiannya lebih dari 25 ribu kiloliter lebihnya dikenakan harga pasar,’ katanya.

Source : www.detikfinance.com