Rencana pemerintah memprioritaskan pembangunan transmisi gas Kalimantan Timur-Pulau Jawa untuk mengatasi kekurangan gas perlu ditinjau ulang.

Rencana pemerintah memprioritaskan pembangunan transmisi gas Kalimantan Timur-Pulau Jawa untuk mengatasi kekurangan gas perlu ditinjau ulang. Proyek tersebut berpotensi mubazir mengingat pemerintah juga akan membangun terminal gas alam cair (liquified natural gas/LNG) dan selesainya transmisi Sumatera Selatan-Jawa Barat.

Demikian dikemukakan pengamat migas Ramses Hutapea di Jakarta, Sabtu (13/8). ”Rencana itu sekaligus menunjukkan kebijakan energi pemerintah yang saling tumpang tindih, antarprogram tidak terintegrasi,” ujarnya.

Menteri Koordinator Perekonomian Aburizal Bakrie menyebut proyek tersebut perlu segera direalisasikan, kalau perlu tanpa tender (Kompas, 11/8). Apabila jadi dibangun jalur pipa sepanjang 1.220 kilometer dari Kilang Badak ke Semarang, hal itu akan menelan dana investasi sebesar 1.475 juta dollar AS.

”Padahal, tahun depan pipa gas dari Sumsel sudah masuk ke Jawa Barat. Dilanjutkan dengan pembangunan transmisi gas dari Jawa Barat ke Jawa Timur,” kata Ramses.

Pembangunan dua jalur pipa dari Sumatera Selatan-Jawa Barat merupakan proyek Perusahaan Gas Negara (PGN) yang dijadwalkan bisa selesai pada Oktober 2006. Jaringan pipa itu akan mengalirkan 510 juta standar kaki kubik gas per hari (mmscfd) dari lapangan Pertamina dan ConocoPhillips. Tahun depan, Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan membangun sebuah terminal LNG di Jawa Barat untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik.

Pasokan gas tersebut, lanjut Ramses, sudah melampaui kebutuhan industri di Jawa sampai 10 tahun ke depan. Pasokan gas itu masih akan bertambah dengan masuknya gas dari sekitar Pulau Jawa, termasuk dari Blok Cepu dan sejumlah lapangan di Madura dan Jawa Timur. Awal tahun 2006 sekitar 100 mmscfd gas dari lapangan Sampang milik Santos akan mengalir ke Jawa Timur. Jadi, akan terjadi surplus pasokan gas untuk Jawa Timur. Saat ini kebutuhan gas industri mencapai 120 juta mmscfd.

”Kalaupun pipa dibangun, cadangan gas di Kalimantan sudah pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan industri di sana, sisanya sudah terikat untuk ekspor sampai tahun 2010 dan tahun 2015,” kata Ramses.

Gas PLN

Pengalihan gas dari pembangkit PLN ke PGN, yang direncanakan mulai dialirkan 15 Agustus ini, belum dilakukan. Direktur Utama PLN Eddie Widiono mengatakan, sepanjang mekanisme penggantian pemakaian BBM belum jelas, PLN belum dapat memberikan gas kepada PGN.

Sebelumnya, dalam pertemuan yang membahas masalah pengalihan gas untuk industri antara PGN, PLN, dan Pertamina pada hari Rabu pekan lalu, PLN mengajukan syarat bersedia mengalihkan gas apabila dibolehkan membeli solar dengan harga Rp 850 per liter.

PLN memperkirakan, penambahan solar untuk pembangkit akan bertambah 100.000 kiloliter sampai akhir tahun ini. Namun, pemerintah menetapkan PLN harus membeli solar sesuai dengan harga pasar.

General Manager Strategi Bisnis PGN Wilayah Jawa Timur Trijono mengatakan, kekurangan gas untuk industri di Jawa Timur pada bulan Agustus ini masih dapat tertutupi dengan pengalihan gas dari PT Pupuk Petrokimia Gresik sebesar 40 mmscfd. Ditambah pasokan dari Kodeco (14 mmscfd) dan Lappindo (51 mmscfd), PGN bisa menyalurkan gas sebesar 118 mmscfd ke industri.

”Kebetulan ada satu unit pabrik Petrokimia yang sedang tidak beroperasi sampai akhir bulan sehingga gasnya bisa dialihkan sehingga bulan depan, pasokan gas kembali kurang,” kata Trijono.

Source : www.kompas.com