Sebagai orang yang baru memasuki dunia kerja, pasti masih banyak yang ingin diketahui bagaimana membangun/ belajar hal-hal tentang safety terutama untuk hal_hal yang sifatnya umum, sehingga pada akhirnya bisa membangun sense of safety yang bagus untuk hal-hal teknis lainnya.

Sebagai orang yang baru memasuki dunia kerja, pasti masih banyak yang ingin diketahui bagaimana membangun/ belajar hal-hal tentang safety terutama untuk hal_hal yang sifatnya umum, sehingga pada akhirnya bisa membangun sense of safety yang bagus untuk hal-hal teknis lainnya.

Safety dimulai dari tahap Design. Dan hal ini harus bersifat umum. Pada saat kita berpikir bahwa ‘Safety in Design’ adalah hal yang bersifat khusus di situlah awal dari bencana yang umum.

Hal yang tersulit dalam masalah safety mungkin adalah penerapannya ke dalam praktek di lapangan dibandingkan hanya di atas kertas. Kabarnya juga kalau kaidah-kaidah safety telah merasuk ke masing-masing orang sampai ke pekerja-pekerja kecil, maka hal soal safety tidak diperlukan lagi bahkan bisa dibubarkan saja, ini hal mengerikan yang tidak mungkin terjadi karena manusia itu masih punya sifat pelupa.

Ini pernah terbukti pada waktu mengikuti test menjadi process engineer di UEA beberapa waktu yang lalu, ternyata test dilakukan oleh seorang Process Safety Manager, hal-hal yang ditanyakan adalah masalah engineering basic, pemilihan equipment, basic design yang efektif dan safe semisalnya untuk Heat Exchanger dan Separator, lalu beralih ke terminology safety basic misalnya dalam design sampai masalah commissioning dan start-up, hal-hal basic dan sense apa saja yang diperlukan oleh seorang process engineer dalam masalah ini agar selalu dapat menangani juga masalah safety juga safe.

Untuk matrix skill serta uraian knowledge yang sekiranya dibutuhkan process safety engineer sudah pernah dibahas oleh Mas Cahyo dan Bli Made di iips-online@yahoogroups.com. Walaupun demikian basic ilmu physic, chemical, mekanika fluida, korosi, basic ilmu material, dan sebagainya. perlu diketahui sebagai bekal menuju masalah safety yang lebih dalam.

Penerapan design yang safe dalam berbagai tahap misalnya concept/basic/detail design sampai menuju commissioning dan start-up masih perlu dipelajari agar bisa mendalami masalah safety, belum lagi masalah behavioural safety dan system safety dan penerapan PSM system serta PHA-nya.

Spesialisasi ilmu safety dapat terbagi menjadi : industrial safety, industrial hygiene, environmental safety, fire protection engineering, ergonomics, system safety, risk management, loss control, chemical process safety, construction safety, institutional safety management, transportation safety, dan safety research & management field menurut BCSP (Board of Certified Safety Profesional – Amrik).

Layer protection dalam masalah safety bermula dari process design (kaidah LOPA jelasnya). Dan penerapannya bermula dari komitmen manajemen karena tujuan PSM system dibuat adalah untuk melindungi orang dan fasilitas /asset juga lingkungan sekitar tentunya.

Rujukan buku yang bagus adalah seperti dibawah, disamping tentunya PSM system seperti yang tertulis di API 750, OSHA, EPA-RMP, dll. (Artikel mengenai sistem dan terminologi tertentu dalam safety semisalnya OSHA PSM, inherently safer, dan konsep yang sudah umum lainnya banyak beredar di internet) :

  1. Loss Prevention in the Process Industries (hazard indentification, assessment and control), F.P Lees, Buttenworth-Heinennman
  2. CCPS Guideline book series
  3. Trevor Kletz book series

Setiap karyawan baru di sebuah perusahaan di beritahu mengenai safety sebelum, saat dan sesudah kerja. Ada yang namanya step 5 by 5, sebelum bekerja mundur lima langkah dan perhatikan sekeliling kita apakah aman bagi kita, bagi orang orang di sekitas kita sebelum memulai sedang atau sesudah kerja jika berbahaya tinggalkan dan beritahu supervisor untuk tindakan berikutnya. Ada lagi untuk pengemudi misalnya 5 cara mengemudi yang aman pandangan luas kedepan, pastikan orang melihat anda, jaga jarak aman, dan lain-lain

Sebenarnya safety itu bukan hal yang ‘menyulitkan’ atau ‘merepotkan’ kita saat bekerja misalnya harus memakai coveral, kacamata, sarung tangan, safety shoes, helm, dll yang kelihatan ‘ribet’ dan penuh aksesoris tetapi sebenarnya sangat bermanfaat bagi keselamatan kerja..

Bahkan ada perusahaan memberikan peringatan keras ‘zero tolerant’ untuk pelanggaran safety. Pelanggarannya ‘sepertinya simple’ yaitu naik mobil perusahaan dengan double cabin diisi lebih dari lima orang bagi supir angkutan umum itu tak masalah..mau diisi berapa asal muat..tetapi di sanalah kita dapat melihat perusahaan yang menghargai nyawa dan keselamatan karyawannya atau tidak dan karyawan itu sendiri yang menghargai nyawa dan keselamatannya. karena setiap orang potensial untuk mengalami kecelakaan..dan dengan safety first-lah dapat di minimalkan, dihindari dan dicegah resiko tersebut..

Akan tetapi, tidak semua perusahaan memakai standar PPE yang sama… ada yang ergonomik dan nyaman dipakai ada yang tidak, dan tidak ada yang MUDAH dalam penerapan safety, kebanyakan perusahaan tidak mengalami kecelakaan hanya karena beruntung saja, dan satu lagi safety itu beyond PPE jadi tak ada yang mudah, bahkan menyediakan PPEnya atau setelah PPE dipakai apa lagi yang harus compliance.

Membuat kebijakan behavior safety (istilah kerennya MAKING SAFETY AS A SECOND NATURE) jauh lebih sulit.

Timbul pertanyaan, bukankah impact dari terjadinya kecelakaan sama? Injury or fatal. Lalu kenapa perusahaan A atau B bisnis yang sama (mis. offshore) memakai PPE yang berbeda? Adakah regulasi untuk PPE (untuk core bisnis tertentu misal, Industri plant, oil & gas Plant etc)

Sebagaimana satu kecelakaan dapat ditimbulkan dari berbagai sebab… satu kejadian kecelakaan pun dapat menimbulkan ultimate consequences…

PPE berbeda bisa terjadi jika perusahaan di bussiness yang sama menggunakan patron standar yang berbeda, sejauh ini standar PPE untuk perusahaan dengan patron safety di States biasa menggunakan ANSI Z.8 (ada di balik helm safety, atau di sol sepatu Red Wings) Sistem Inggris lain lagi, apalagi yang tidak memakai sistem alias kebayakan perusahaan dalam negeri, jangankan menyediakan PPE, membayar gaji karyawan sesuai dengan beban kerjanya adalah puji syukur.

Penerapan safety menjadi second nature bisa dikatakan sebagai visi, yang merupakan mimpi yang mungkin dicapai.

Penerapan safety menjadi sesuatu yang harus ditumbuhkan dari dalam diri setiap manusia, dimanapun dia berada.