Menjawab tantangan akan energi alternatif biodiesel, Pertamina segera mengembangkan industri biodiesel dengan menggunakan minyak dari buah jarak.

Menjawab tantangan akan energi alternatif biodiesel, Pertamina segera mengembangkan industri biodiesel dengan menggunakan minyak dari buah jarak. Untuk mewujudkan ambisinya itu, Pertamina menggandeng ITB melalui PT Rekayasa Industri dan PT Energi Alternatif Indonesia.

Untuk itu, pada Kamis (18/8/2005) ditandatangani nota kesepahaman (MoU) antara Pertamina dan ITB dalam hal penelitian, pendidikan, pelatihan, ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya di bidang energi di Kantor Pertamina, Jalan Perwira, Jakarta.

Dirut Pertamina Widya Purnama mengatakan, energi alternatif ini dimaksudkan sebagai solusi utuk menghadapi besarnya subsidi BBM jenis solar. Saat ini Indonesia mengimpor 400 ribu barel dalam bentuk produk dan juga mengimpor 400 ribu barel minyak mentah. ‘Dan ini tentu memberatkan keuangan negara,’ katanya.

Ia mengimbau para petani berlomba-lomba menanam pohon jarak karena bakal menghasilkan keuntungan yang cukup lumayan. Rencananya, semua hasil pohon jarak akan dibeli melalui KUD atau kecamatan-kecamatan. Penanaman pohon jarak ini juga cukup mudah, dan bisa dilakukan di lahan kritis. Saat ini Indonesia memiliki lahan kritis sekitar 13 juta hektar.

Untuk mendapatkan 100 ribu barel per hari, dibutuhkan 3 juta hektar pohon jarak. Biodiesel ini sudah ada di sejumlah SPBU seperti Sentul, Bandara Soekarno Hatta, dan Subang.

CEO PT Rekayasa Industri Triharyo Susilo mengatakan, alasan pengembangan solar biodiesel dari buah jarak karena jenis ini lebih baik dari solar biasa dan ramah lingkungan serta nilai bakarnya lebih tinggi.

Dari buah jarak, 40 persennya dapat dijadikan minyak, dan rencananya produk ini akan dijual Rp 2.000-2.500 per liter.

Berdasarkan data PT Rekayasa Indonesia, dana yang dibutuhkan untuk melakukan tanam buah jarak mencapai Rp 3,7 triliun untuk lahan seluas 13 hektar dengan bibit yang ditanam 7,5 miliar. Harga bibit dan penanaman sekitar Rp 500 per bibit.

Source : www.detikfinance.com