Meski dilanda konflik bertahun-tahun, Aceh tetap menjadi primadona penghasil migas.

Meski dilanda konflik bertahun-tahun, Aceh tetap menjadi primadona penghasil migas. Buktinya, Pertamina meminta izin pengelolaan Blok A Migas di Aceh Timur selama 3 tahun.

‘Kita sanggup menjadi operator blok A dengan segala risiko, biaya dan teknologinya,’ kata GM Pertamina Daerah Operasi Hulu (DOH) NAD-Sumatera Bagian Utara, Ridwan Nyak Baik, kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (20/8/2005).

Tempo 3 tahun itu akan terhitung sejak plan of development (POD) disetujui pemerintah. Menurut Ridwan, blok A mempunyai potensi gas sangat besar. ‘Kami merencanakan berinvestasi untuk 6-8 sumur dalam pengembangan tiga tahun dengan nilai investasi sekitar US$ 50 juta,’ jelasnya.

Pertamina memprediksi potensi gas yang keluar dari sumur tersebut yakni 24 juta kubik perhari. ‘kita telah teruji dalam pengoperasian lapangan migas di Aceh meski terjadi konflik. Ini menunjukkan kita mampu bersaing dengan perusahaan migas asing,’ tegasnya.

Ia menjelaskan, blok A sudah cukup lama ditelantarkan oleh pengelolanya hampir 10 tahun. Sebelumnya, perusahaan migas asing mengelola blok ini. Namun kemudian ditinggalkan dengan alasan daerah konflik.

‘Saya curigai alasan perusahaan asing itu hanya untuk meningkatkan posisi tawar mereka sehingga porsi pemerintah kecil. Tidak ada itikad baik dari mereka selama ini hasil eksplorasi disana uang mengalir ke luar negeri,’ tandasnya.

Pertamina meminta pemerintah memprioritaskan perusahaan migas nasional untuk menggarap ladang-ladang yang ditinggalkan investor asing. ‘Kita komitmen gas di blok A untuk memasok dalam negeri terutama untuk PIM I dan PIM II, AAF, kertas kraft dan PLN,’ janji Ridwan.

Source : www.detikfinance.com