PT Perusahaan Gas Negara (Persero) akan mempercepat penyelesaian pembangunan jaringan pipa transmisi gas Sumatera Selatan-Jawa Barat fase kedua, dari Oktober 2007 menjadi Februari 2007.

PT Perusahaan Gas Negara (Persero) akan mempercepat penyelesaian pembangunan jaringan pipa transmisi gas Sumatera Selatan-Jawa Barat fase kedua, dari Oktober 2007 menjadi Februari 2007. Jika pembangunan jaringan pipa fase kedua selesai, PGN dapat mengalirkan gas sebanyak 1 miliar kaki kubik per hari untuk menggantikan 10 juta liter bahan bakar minyak yang digunakan beberapa pembangkit listrik di Jawa Barat.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara (PGN), WMP Simanjuntak, Sabtu (20/8), dalam kunjungannya ke sumur dan pengolahan gas alam Medco LPG Kaji, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Gas yang dialirkan dari Sumsel itu juga akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan berbagai industri di Jabotabek.

Pembangunan jaringan pipa gas fase pertama dan kedua dilakukan dalam waktu yang hampir bersamaan. Pembangunan jaringan pipa gas fase pertama dimulai November 2005, setelah pembebasan lahan di beberapa lokasi di Lampung selesai pada Oktober 2005.

Jaringan pipa gas fase pertama akan dibangun mulai dari Pagar Dewa (Prabumulih), Labuhan Maringgai (Lampung), Cilegon, sampai Anyer, sepanjang 500 kilometer. Jaringan pipa gas fase kedua akan dibangun mulai dari Musi Banyuasin, melewati Pagar Dewa, Labuhan Maringgai, Jakarta, dan berakhir di Bekasi, sepanjang 661 kilometer.

Bahan bakar gas

Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Aburizal Bakrie, pemakaian gas sebagai bahan bakar pembangkit listrik sangat diperlukan untuk mengatasi kekurangan pasokan energi listrik yang terjadi di Indonesia. Penghematan subsidi bahan bakar minyak dengan memakai gas sebagai pembangkit listrik juga diperlukan karena harga minyak dunia semakin tinggi.

Selain itu, pemerintah juga sudah meresmikan penggunaan beberapa pembangkit listrik kecil yang menggunakan bahan bakar flare gas atau gas buangan di Jawa Timur, sebesar 30 megawatt. Untuk merealisasikan jalur pipa gas dari Kalimantan ke Jawa, pemerintah sudah membentuk tim khusus untuk melakukan studi kelayakan.

Lukman Mahfoedz, Direktur Utama Eksploitasi dan Produksi Medco Energi Indonesia, mengatakan, pihaknya sedang mengoptimalkan produksi di 93 sumur gas dan minyak yang sudah tua dengan berbagai teknik rekayasa. Dengan cara itu diharapkan bisa meningkatkan produksi sekitar 120.000 barrel per bulan dan mendatangkan tambahan pendapatan 230 juta dollar AS.

Merugikan industri

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Mohamad S Hidayat meminta pemerintah dapat mempercepat pembangunan infrastruktur energi, terutama listrik agar kalangan industri tidak mengalami kerugian karena berkurangnya produktivitas dan gangguan jadwal produksi.

Black out yang terjadi selama sekitar enam jam pada 18 Agustus kemarin sudah merugikan industri puluhan miliar rupiah. Ke depan kan juga tidak ada jaminan tidak terjadi lagi. Jadi pembangunan infrastruktur hendaknya dipercepat, katanya.

Tanpa upaya itu akan terjadi ketidaksinkronan antara kebutuhan dan jumlah energi listrik yang tersedia. Menurut dia, saat ini yang menjadi kendala dalam pembangunan infrastruktur listrik, yaitu masalah pembebasan tanah. Oleh sebab itu, hendaknya Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum bisa segera direalisasikan, kata Hidayat.

Source : www.kompas.com