Baru empat hari menunjukkan tanda-tanda penurunan, kini harga minyak dunia mulai naik lagi.

Baru empat hari menunjukkan tanda-tanda penurunan, kini harga minyak dunia mulai naik lagi. Kekhawatiran kembali muncul setelah adanya serangan roket di Pelabuhan Aqaba, Yordania, yang diarahkan ke kapal perang USS Ashland milik AS.

Harga minyak langsung naik sekitar 3 persen setelah adanya serangan tersebut. Kondisi ini diperburuk dengan adanya peringatan dari Ekuador akan keadaan darurat ekonomi negara tersebut.

Ekspor minyak mentah Ekuador terhenti akibat demonstrasi yang diikuti kerusuhan di dua ladang minyak terkaya di Provinsi Amazon oleh pekerjanya. Pemrotes yang merupakan masyarakat lokal setempat menuntut bagian yang lebih besar atas pendapatan minyak.

Harga minyak mentah di pasar New York jenis light untuk kontrak pengiriman September naik US$ 2,08 menjadi US$ 65,35 per barel. Sedangkan London untuk jenis brent naik US$ 1,96 menjadi US$ 64,36 per barel.

Harga minyak mentah sebelumnya mencatat kenaikan tertinggi pada Jumat (12/8/2005) di level US$ 67,10 per barel. Namun sejak Senin (15/8/2005) mulai menurun karena sejumlah kilang telah berfungsi maksimal setelah mengalami perbaikan.

Hampir sekitar empat hari sejak Senin (15/8/2005) sampai Kamis (19/8/2005) harga minyak terus menurun sampai ke level US$ 62,25 per barel. Begitu pula pada perdagangan sampai Jumat siang (19/8/2005) harga minyak dunia masih diprediksi akan turun.

Namun prediksi tersebut hanya berupa harapan karena pasar minyak global diguncang sentimen negatif serangan roket ke kapal perang di AS di Pelabuhan Yordania dan kerusuhan di Ekuador.

Serangan tiga roket jenis Katyusha di Pelabuhan Aqaba telah menewaskan seorang tentara Yordania dan satu orang lainnya terluka. Sebuah kelompok yang mengaku memiliki kaitan dengan Al-Qaeda yakni Brigade Abdullah al-Azzam dalam sebuah pernyataan di internet mengaku bertanggung jawab. Kelompok ini sebelumnya terlibat dalam pemboman di resor Sharm al-Sheikh Mesir pada 23 Juli 2005.

‘Aksi ini sangat memukul dan mengejutkan yang membuat orang berpikir Timur Tengah bagaikan daerah mesiu yang sewaktu-waktu bisa meledak,’ kata Deborah White, analis Energi Senior dari SG Commodities di Paris seperti dilansir Reuters, Sabtu (20/8/2005).

Kondisi di atas akan membuat menurunnya pasokan minyak karena Amerika sebagai konsumen terbesar. Ditambah terhentinya ekspor minyak Ekuador sekitar 144 ribu barel per hari yang akan merusak persediaan minyak di pasar.

Beberapa perusahaan investasi yang memiliki divisi khusus energi juga mulai mengoreksi prediksinya karena melihat tren harga minyak saat ini. Seperti Goldman Sachs pada Kamis (18/8/2005) memprediksi harga minyak rata-rata dalam lima tahun ke depan di level US$ 60 per barel. Proyeksi ini lebih tinggi US$ 15 per barel dibandingkan prediksi sebelumnya.

Begitu pula dengan Merrill Lynch yang memperbarui prediksi harga minyaknya 40 persen lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Namun Merrill Lynch hanya memprediksi harga minyak rata-rata sampai tahun 2009 hanya sebesar US$ 42 per barel.

Source : www.detikfinance.com