Sistem kelistrikan di Jawa dan Bali kembali mengalami gangguan menyusul rusaknya PLTU Suralaya Unit 3 dan PLTU Paiton Unit 7.

Sistem kelistrikan di Jawa dan Bali kembali mengalami gangguan menyusul rusaknya PLTU Suralaya Unit 3 dan PLTU Paiton Unit 7. Akibat kejadian itu daya listrik di Jawa dan Bali defisit hingga 571 megawatt. Dengan kemampuan pembangkit yang pas-pasan, kelistrikan Jawa-Bali kritis.

General Manajer PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa-Bali Muljo Adjie, Senin (22/8) di Jakarta, mengatakan, PLTU Suralaya Unit 3 yang berkapasitas 400 MW mengalami kebocoran pada sistem boiler-nya, sedangkan PLTU Paiton Unit 7 yang berkapasitas 615 MW mengalami gangguan pada sistem eksitasi generatornya. Akibat gangguan itu, sejak Minggu kedua unit pembangkit gagal menghasilkan daya listrik, kata Muljo.

PLN belum dapat memastikan apakah kerusakan tersebut masih berangkai dengan gangguan sistem kelistrikan yang terjadi Kamis lalu.

PLTU Suralaya yang berkapasitas 3.212 MW dan PLTU Paiton yang berkapasitas 3.250 MW merupakan andalan pasokan listrik di Jawa dan Bali. PLTU Suralaya terdiri dari tujuh unit pembangkit, sedangkan PLTU Paiton terdiri dari enam unit pembangkit.

Manager Unit Bidang dan Operasi Sistem P3B Paiton Made Ro Sakya menjelaskan, selama beban puncak, kemarin suplai dari Region Jawa Timur berkurang 615 MW, atau pasokan daya dari Region Jawa Timur ke interkoneksi Jawa-Bali hanya 1.800 MW.

Untuk menutupi kekurangan daya listrik di Jakarta dan Banten, kemarin sore PLN mempercepat pengoperasian dua unit pembangkit di PLTU Muara Karang berkapasitas 200 MW. Padahal, dua pembangkit tersebut sedang dalam pemeliharaan.

Pukul 18.11 pembangkit Unit 3 Suralaya dapat memasok daya kembali ke sistem interkoneksi Jawa-Bali, meskipun baru sekitar 30 MW. Ditambah partisipasi industri dan pelanggan rumah tangga, mengurangi penggunaan daya listrik saat beban puncak sampai 250 MW, sehingga tak sampai terjadi pemadaman, kata Muljo.

Source : www.kompas.com