Melonjaknya harga minyak karena adanya ancaman badai di Teluk Meksiko dan cadangan minyak Amerika Serikat (AS) yang mengalami penurunan.

Melonjaknya harga minyak karena adanya ancaman badai di Teluk Meksiko dan cadangan minyak Amerika Serikat (AS) yang mengalami penurunan.

Harga minyak mentah di pasar New York Mercantile Exchange untuk kontrak bulan Oktober naik sekitar US$ 1,44 sehingga menjadi US$ 67,15 per barelnya. Harga minyak ini adalah yang tertinggi sejak harga minyak mencapai puncaknya pada 12 Agustus 2005 di level US$ 67,10 per barelnya.

Kenaikan harga minyak ini juga memicu kenaikan harga gas yang melonjak sekitar 16,7 sen sehingga harganya menjadi US$ 9,850 per mmbtu,

Sejumlah broker minyak menyatakan, suplai minyak dan gas yang terganggu menyebabkan harga minyak terus mengalami lonjakan. Terlebih lagi, permintaan akan migas yang terus meningkat, makin membuat harga migas akan terus merayap naik pada beberapa waktu mendatang.

‘Suplai yang rendah dan permintaan yang tinggi yang menyebabkan ini semua,’ kata broker minyak Mike Fitzpatrick dari Fimat yang bermarkas di New York, seperti yang dikutip kantor berita AP, Kamis (25/8/2005).

Harga minyak yang masih bullish ini akibat sentimen negatif terhadap ancaman Badai Tropis Katrina yang akan melanda kawasan Bahamas. Badan Angin Topan AS menyatakan, badai tropis ini akan melintas ke Teluk Meksiko.

Ada kekhawatiran badai ini akan menghentikan kegiatan fasilitas perusahaan minyak yang beroperasi di wilayah teluk ini.

Source : www.detikfinance.com