Sejumlah petugas operator Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya dan pejabat PT Indo Power dan PLN telah diperiksa oleh Tim Investigasi.

Sejumlah petugas operator Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya dan pejabat PT Indo Power dan PLN telah diperiksa oleh Tim Investigasi. Pemeriksaan itu terkait dengan pemadaman yang terjadi Kamis (18/8).

‘Tim sudah datang ke PLTU Suralaya menanyakan penyebab terjadinya gangguan. Sejumlah operator termasuk saya diminta keterangan,’ kata General Manajer Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya PT Indonesia Power Bambang Susianto kepada wartawan di Suralaya, Banten, akhir pekan lalu.

General Manajer Pusat Pengendalian dan Pembagian Beban PT PLN Muljo Adji juga telah diperiksa oleh tim investigasi. Tim itu terdiri dari Badan Intelejen Negara, Polri, Dirjen Listrik, dan PLN.

Selain itu, dalam waktu dekat tim independen yang terdiri dari pakar kelistrikan dari beberapa perguruan tinggi ternama juga akan datang ke PLTU Suralaya.

‘Saat ini kami sedang mengumpulkan data, gambar, dan teori-teori masalah kelistrikan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa ditemukan penyebab terjadinya gangguan,’ kata Muljo.

Menurut Muljo, penyebab gangguan tersebut harus ditemukan. Sebab, bila pemadaman terulang kembali akan menyusahkan konsumen dan PLN juga. Untuk meminimalkan kemungkinan gangguan seperti pada Kamis (18/8), pihaknya akan memodifikasi sistem pengaman secara bertingkat. Dengan begitu, bila ada signal muncul, tak sampai memutuskan sistem pembangkit di Suralaya. Bila selama ini sistem proteksinya hanya ada dua tingkat, melalui peningkatan sistem modifikasi itu, nantinya ditambah menjadi tiga tingkat.

Mengenai masih sering terjadi kebocoran pada boiler (sistem pemanas air), Bambang menjelaskan, di samping disebabkan oleh umur pembangkit yang sudah tua, juga ada pipa bocor akibat adanya guncangan ketika terjadi gangguan 18 Agustus lalu.

Pada kesempatan itu Bambang juga menjelaskan kronologi gangguan pembangkit unit 6 dan 7, Kamis (18/8). Penyebab putusnya (trip) PLTU Suralaya unit 6 dan 7 karena adanya sinyal (berupa sinyal elektronik) yang menginformasikan terjadi perubahan status pada gen breaker 52 G1 closed dan Gen Breaker G2 Closed.

Sinyal tersebut dikirim peralatan pengaman (proteksi) di GITET (Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi) Suralaya kepada PLTU Suralaya unit 5,6 dan 7.

Dengan adanya informasi tersebut unit 5,6 dan 7 menurunkan beban dengan cepat kemudian secara otomatis unit 6 dan 7 putus.

‘Urutan proses control otomatis tersebut dilakukan oleh sistem pengaman elektronik Suralaya dengan tujuan mengamankan PLTU dari kerusakan,’ katanya.

Dari penelitain yang dilakukan, sinyal Gen Breaker 52 G1 dan Gen Breaker 52 G2 status yang dikirimkan peralatan proteksi di GITET Suralaya kepada PLTU Suralaya Unit 5,6 dan 7 ternyata diakibatkan oleh gangguan pada peralatan proteksi GITET Suralaya.

Penyebab gangguan tersebut saat ini sedang diselidiki. Sedangkan mengenai masih sering terjadinya gangguan pasca kejadian Kamis (18/8), Bambang menjelaskan, berdasarkan pengamatan pasca gangguan, PLTU Suralaya juga terjadi kerusakan sebagai akibat dari trip (putus) pada beban tinggi, dan PLTU unit 3 merupakan unit paling parat terkena dampak tersebut.

Kerusakan yang terjadi di unit 3 itu antara lain kebocoran economozer, kebocoran spray water yang terjadi dua kali berturut-turut. Serta kerusakan pada bearing (bantalan) air heater A yang menyebabkan sejak 18 Agustus 2005 PLTU unit 3 hanya dapat dibebani 186 mw, atau kurang dari 50% dari daya terpasang (400 mw).

Selain unit 3, unit lain yang saat ini sedang dalam penelitian, karena kemungmkinan terjadinya kerusakan sejenis. Apabila ditemukan kerusakan yang mengakibatkan unit harus shut down maka perbaikan akan dilakukan setelah PLTU Suralaya Unit 2 selesai direhabilitasi. ‘Direncanakan unit 2 dengan kapasitas 400 mw beroperasi 1 September 2005,’ ungkapnya.

Terkait dengan kinerja PLTU Suralaya, Bambang menjelaskan, ketersediaan yang dinyatakan dalam equivalent availability factor (EAF) atau faktor yang menunjukkan persentase kesiapan pembangkit dalam kurun waktu tertentu (biasanya 1 tahun), dari PLTU Suralaya unit 1-unit 7 saat ini masih lebih baik dari standar yang ditetapkan oleh NERC (BNorth America Electricity Reliability Council).

EAF komulatif PLTU Suralaya sampai Juli 2005 adalah 89,25%, lebih tinggi dari standar NERC untuk PLTU batu bara 82,97%. ‘Berdasarkan pengamatan, sampai saat ini secara operasional PLTU Suralaya dari unit 1 sampai 7 berada dalam kondisi baik,’ kata Bambang.

Source : www.mediaindo.co.id