Harga minyak di perdagangan Asia hari ini mencetak rekor baru, menembus angka US$ 70 per barel.

Harga minyak di perdagangan Asia hari ini mencetak rekor baru, menembus angka US$ 70 per barel. Penyebabnya, topan Katrina yang menyerang kawasan Teluk Meksiko yang menjadi sentra produksi minyak Amerika Serikat.

Sejumlah analisis memprediksi, kini harga minyak bisa saja terus bergulir menuju US$ 80 per barel yang semula dinilai tak mungkin. Angka itu juga menakutkan kalangan ekonom lantaran dapat menciutkan sektor konsumsi dan aktivitas bisnis.

Di bursa New York, minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Oktober menembus angka US$ 70,80 per barel. Angka ini naik US$ 3,82 dari perdagangan Jumat pekan lalu yang ditutup pada US$ 66,13. ‘Pasar kelihatannya bakal sulit dikontrol, karena orang khawatir atas pasokan bensin dan minyak mentah,’ kata Tetsu Emori, analis di Mitsui Bussan Futures, Tokyo, Jepang.

Menurut dia, pasar akan menunggu dampak konkret topan terhadap kegiatan produksi. Namun, dia meyakini angka US$ 70 kemungkinan tidak berlanjut. Sebab liburan musim panas di Amerika Serikat kini mendekati akhir sehingga menciutkan konsumsi bensin. ‘Angka US$ 70 sangat jauh dari sisi fundamental,’ katanya, ‘Ini sungguh sulit unutk berlanjut.’

Namun, Dariusz Kowalczyk dari CFC Seymour Securities, Hong Kong, khawatir topan itu menimbulkan kerusakan terhadap alat pengeboran minyak lepas pantai dan kilang minyak daratan sehingga membutuhkan perbaikan lebih lama.

Dia menyebutkan ramalan bahwa topan Katrina akan melanda pelabuhan Louisiana yang memasok 11 persen impor minyak Amerika atau setara 1 juta barel per hari.

Dia juga membandingkan topan Katrina dengan topan Ivan yang menghantam pesisir teluk Amerika, September tahun lalu, yang menyebabkan kerusakan dahsyat terhadap infrastruktur produksi minyak mentah yang membawa harga minyak naik 22 persen.

‘Persamaannya dengan Katrina adalah sangat kuat sehingga pasar khawatir harga bisa melonjak,’ ucapnya.

Source : www.tempointeraktif.com