Kenaikan harga minyak dunia bisa memicu depresiasi rupiah karena pemerintah selalu salah mengkomunikasikannya kepada pasar.

Kenaikan harga minyak dunia bisa memicu depresiasi rupiah karena pemerintah selalu salah mengkomunikasikannya kepada pasar. Padahal semestinya kenaikan harga minyak tidak berkaitan langsung terhadap depresiasi rupiah.

Hal tersebut disampaikan Direktur International Centre for Applied Finance and Economics (Inter CAFE) IPB Iman Sugema dalam jumpa pers di sebuah restoran di kawasan Senayan, Jakarta, Senin (29/8/2005).

‘Pemerintah selalu mengkomunikasikan kalau harga minyak internasional naik, beban subsidi yang ditanggung pemerintah juga naik. Sehingga anggaran pemerintah jebol. Pasar akhirnya percaya hal ini sehingga mengambil langkah antisipatif,’ kata Iman.

Menurut Iman, pemerintah semestinya bisa mengkomunikasikan dengan baik soal kenaikan harga minyak itu dengan mengatakan masalah kenaikan harga minyak bisa diatasi. Dengan komunikasi yang baik, pelaku pasar tidak akan terpancing melakukan spekulasi.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan depresiasi rupiah ke depan, Iman bahwa hal itu tergantung pemerintah. ‘Harus ada tindakan nyata, langkah nyata. Sekarang semuanya hanya artifisial. Misalnya kunjungan ke BEJ, ke BI. Tapi apa langkah nyatanya,’ tegas Iman.

Menurutnya, langkah artifisial tersebut tidak akan bertahan lama. Langkah nyata dibutuhkan untuk menumbuhkan kredibilitas pemerintah.

Hal senada juga disampaikan peneliti dari Inter CAFE Rina Oktaviani yang mengatakan, langkah-langkah yang diambil pemerintah tidak akan efektif kalau dikerjakan oleh tim yang tidak kredibel. ‘Semakin kredibel pemerintahan suatu negara, pasar juga semakin kredibel untuk memegang mata uangnya,’ ujarnya.

Source : www.detikfinance.com