Harga minyak mentah dunia pada perdagangan Rabu pagi melewati level 70 dolar AS per barel, dibandingkan dengan penutupan Selasa (30/8) yang di level 69,81 dolar per barel.

Harga minyak mentah dunia pada perdagangan Rabu pagi melewati level 70 dolar AS per barel, dibandingkan dengan penutupan Selasa (30/8) yang di level 69,81 dolar per barel.

Pada pukul 7:00 waktu Singapura (2300 GMT), harga minyak di pasar New York untuk kontrak pengiriman Oktober diperdagangkan di level 70,50 dolar per barel, naik 69 sen dari penutupan Selasa yang di level 69,81 dolar.

Gonjang-ganjing harga minyak itu terkait dengan serangan Badai Katrina yang telah menewaskan ratusan orang di Amerika Serikat dan mengganggu fasilitas produksi minyak milik AS di Teluk Meksiko dan New Orleans.

‘Lonjakan harga hari ini mengindikasikan bahwa pasar yakin bahwa ada kerusakan yang disebabkan oleh Badai Katrina,’ kata analis Fimat, Mike Fitzpatrick, Rabu.

Departemen Energi AS mengatakan mereka tengah mempertimbangkan untuk melepaskan cadangan minyaknya (SPR) setelah terjangan badai Katrina di wilayah selatan AS. Hal ini dilakukan sebagai tanggapan atas sejumlah desakan, termasuk dari Indonesia, agar AS melepaskan SPR untuk meredam gejolak harga minyak.

Saat terjadi serangan Badai Ivan pada September 2004, Departemen Energi AS melepaskan SPR lebih dari 5 juta barel di sejumlah kilang minyak termasuk Premcor, ConocoPhillips dan Shell Trading untuk memastikan lancarnya pasokan.

Sedikitnya lima kilang minyak besar di Gulf Coast ditutup akibat terjangan Katrina.

Dua terminal tanker di Louisiana rusak akibat serangan Katrina, yaitu Port Fourchon dan Louisiana Offshore Oil Port, yang keduanya menampung sekitar 20 persen minyak mentah impor.

Berdasarkan data pemerintah AS, Katrina juga mengakibatkan penghentian produksi 95 persen minyak mentah dan 88 persen produksi gas alam di Teluk Meksiko, yang diperkirakan setara dengan 25 persen total produksi minyak AS.

Source : www.mediaindo.co.id