Tahap konstruksi tambang milik PT Dairi Prima Mineral di Kabupaten Dairi yang rencananya mulai dikerjakan awal 2006 diduga akan tertunda karena terhambat pembebasan lahan ulayat.

Tahap konstruksi tambang milik PT Dairi Prima Mineral di Kabupaten Dairi yang rencananya mulai dikerjakan awal 2006 diduga akan tertunda karena terhambat pembebasan lahan ulayat. Penundaan dipicu masalah berlarutnya proses pembebasan lahan wilayah konsesi perusahaan tambang itu yang kebetulan tanah ulayat, sehingga beberapa kelompok masyarakat mengklaim tanah tersebut milik nenek moyang. Akibatnya proses ganti rugi lahan tidak bisa dilaksanakan.

Human Relations & Government Relation PT Dairi Prima Mineral T. Situmorang, mengatakan pembebasan tanah menjadi masalah baru yang kemungkinan membutuhkan waktu cukup lama. Memang masalah ini berpotensi menunda pelaksanaan proyek yang akan memasuki tahap konstruksi. Meski terkendala masalah tanah tersebut, pihaknya tetap melaksanakan semua proses, dimana saat ini sedang memasuki tahapan akhir studi analisa mengenai dampak lingkungan yang dalam waktu dekat izinnya sudah dikeluarkan pemerintah.

PT Dairi Prima bersama jajaran pemerintah Kab. Dairi telah membentuk tim sembilan yang bertugas menuntaskan masalah pembebasan lahan dan saat ini tim tersebut sedang melaksanakan investigasi dan komunikasi dengan masyarakat guna mengetahui siapa saja pemilik lahan.

Dairi Prima merupakan perusahaan patungan antara PT Aneka Tambang dan investor dari Australia. Perusahaan yang memiliki konsesi 27.420 hektare dimana sebagian berada di wilayah hutan lindung, menggunakan teknik penambangan tertutup. Manajemen juga membuang limbah ke dalam terowongan penambangan sehingga tidak membahayakan sumber mata air.

Perusahaan ini memulai tahapan penyelidikan umum awal 1998. Sejak itu sampai 2004 memasuki tahapan eksplorasi yang kemudian dilanjutkan studi amdal.

Source : www.miningindo.com