Terus meningginya harga minyak dunia, termasuk mulai disampaikannya rencana pemerintah menaikkan harga BBM membuat para peneliti di Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI) Bogor tergugah mencari BBM alternatif.

Terus meningginya harga minyak dunia, termasuk mulai disampaikannya rencana pemerintah menaikkan harga BBM membuat para peneliti di Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI) Bogor tergugah mencari BBM alternatif. Salah satu yang telah ditemukan adalah biodiesel dari minyak sawit.

‘Biodiesel ini dapat menjadi salah satu solusi mengatasi langkanya minyak bumi yang kian menipis dan harganya pun kian tinggi. Dengan temuan biodiesel dari minyak sawit ini, energi BBM alternatif dapat terus dikembangkan,’ kata Direktur Eksekutif LRPI, Dr Ir Didiek Hadjar Goenadi, MSc, APU di Bogor, Minggu (4/9).

Ia menjelaskan, dari riset yang telah dilakukan diketahui biodiesel tersebut selain ramah lingkungan, juga harganya murah.

Sementara itu, pada sosialisasi melalui round table discussion tentang biodiesel, pekan lalu, Didiek Hadjar Goenadi mengemukakan bahwa salah satu keunggulan Indonesia adalah kemampuannya menghasilkan BBM yang bisa ditanam, yakni Biofuel.

‘Biodiesel dan Bioetanol, kedua bahan bakar ini dihasilkan dari berbagai tanaman yang ada di Indonesia. Dengan kemampuan seperti itu, maka tidak ada alasan untuk tidak mengembangkan energi biodiesel ini,’ katanya.

Menurut dia, perkebunan kelapa sawit di Indonesia berkembang dengan pesat sejak awal tahun 80-an dan hingga akhir 2003 luas total perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah mencapai 4,9 juta hektar dengan produksi CPO (crude palm oil) sebesar 10,68 juta ton.

Perkembangan perkebunan sawit ini, katanya, masih akan terus berlanjut dan diperkirakan dalam lima tahun mendatang Indonesia akan menjadi produsen CPO terbesar di dunia dengan total produksi sebesar 15 juta ton/tahun.

Salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat dikembangkan di Indonesia, selain sebagian besar hasilnya masih dieskpor dalam bentuk CPO dan di dalam negeri diolah menjadi produk pangan, terutama minyak goreng, adalah biodiesel, yang dapat digunakan sebagai ‘bahan bakar alternatif’, terutama untuk mesin diesel.

‘Dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah saatnya apabila Indonesia mulai mengembangkan biodiesel, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor,’ katanya.

Ia mengungkapkan, biodiesel ini adalah bahan bakar cair yang diformulasikan khusus untuk mesin diesel yang terbuat dari minyak nabati(bio-oil), tanpa perlu memodifikasi mesin dieselnya.

‘Untuk pemakaian Biodiesel ini, bisa ‘pure’ biodiesel, maupun sebagai bahan substitusi pada petrodiesel, dengan campuran antara 5 sampai 20 persen. Berbagai kendaraan, mulai dari truk, bus, traktor, hingga mesin-mesin industri bisa menggunakan bahan bakar biodiesel ini,’ katanya.

Bahkan, kata dia, sebuah mobil Toyota Innova keluaran terbaru, bisa menggunakannya. Ia memberi contoh bahwa salah satu mobil Toyota Innova milik para peneliti sudah mampu menempuh jarak 9.195 km dengan menggunakan bahan bakar biodiesel.

Sementara itu, menurut Tjahjono Herawan dari Pusat Penelitian (Puslit) Kelapa Sawit LRPI mengungkapkan ada berbagai kelebihan yang dimiliki biodiesel ini.

‘Biodiesel ini mampu mengurangi emisi CO, PM dan yang pasti bebas sulfur. Dibandingkan dengan solar, emulsi buang Biodiesel ini jauh lebih bagus,’ katanya.

Hal ini, kata dia, disebabkan biodiesel tidak mempunyai sulfur dan karbon oksida. Malahan, untuk Biodiesel 100, dapat dijamin 100 persen ramah lingkungan, sedangkan untuk Biodiesel 10 tergantung pada kualitas solarnya.

Disampaikan pula bahwa biodiesel ini sudah diujicobakan pada berbagai kendaraan, mulai dari Panther, truk Mitsubishi, Dyna hingga Toyota Innova. ‘Dengan kecepatan konstan, konsumsi bahan bakar Biodiesel dan solar hampir sama,’ tambahnya.

Source : www.mediaindo.co.id