Pemerintah menawarkan delapan proyek pembangkit listrik senilai 3,67 miliar dollar AS kepada investor dalam dan luar negeri.

Pemerintah menawarkan delapan proyek pembangkit listrik senilai 3,67 miliar dollar AS kepada investor dalam dan luar negeri. Proyek pembangkit itu diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2010 untuk memenuhi kebutuhan listrik di Tanah Air.

Dokumen delapan proyek itu diserahterimakan dari Direktur Jenderal (Dirjen) Listrik dan Pemanfaatan Energi Yogo Pratomo kepada Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Listrik Negara Eddie Widiono, Rabu (7/9), disaksikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro.

Ia mengatakan, delapan proyek tersebut termasuk yang diusulkan dalam Infrastructure Summit Januari 2005. Pembangkit listrik ini diharapkan dapat menutupi defisit listrik lima sampai enam tahun ke depan, ujar Purnomo.

Proyek pembangkit listrik yang ditawarkan itu adalah PLTU Cirebon 1 x 600 MW (600 juta dollar AS), PLTGU Pasuruan 1 x 500 MW (500 juta dollar AS), PLTU Jateng 2 x 600 MW (1.200 juta dollar AS), PLTU Paiton 3 dan 42 x 400 MW (800 juta dollar AS), PLTU Bali 2 x 100 MW (200 juta dollar AS), PLTU Sumut 2 x 100 MW (200 juta dollar AS), PLTU Sulut 2 x 25 MW (50 juta dollar AS), dan PLTGU Kaltim 2 x 60 MW (120 juta dollar AS).

Yogo Pratomo mengatakan, karena kemampuan pemerintah dan PLN dalam membangun pembangkit terbatas, maka untuk membangun seluruh proyek senilai 3,67 miliar dollar AS tersebut, dibutuhkan peran serta swasta atau investor lain, baik dari dalam maupun luar negeri. Kemampuan pemerintah dan PLN dalam membiayai pembangkit hanya sekitar sepertiganya. Padahal untuk pembiayaan proyek listrik 10 tahun ke depan dibutuhkan dana sebesar 30 miliar dollar AS, papar Yogo.

Dirut PLN Eddie Widiono mengatakan, tender proyek tersebut akan diusahakan sebelum akhir tahun ini. Tender untuk proyek pembangkit di Jawa akan dilakukan tiga tahap, sedangkan untuk pembangkit di luar Jawa, diupayakan hanya satu tahap.

Dalam kesempatan yang sama, Purnomo mengemukakan sudah waktunya biaya produksi listrik sebesar 7 sen dollar AS per kWh ditinjau ulang. Sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini.

Saya sudah meminta PLN meninjau lagi besarnya biaya produksi listrik yang sekitar 50 persennya dipakai untuk kebutuhan pembangkit, kata Purnomo.

Eddie mengatakan, PLN telah membuat beberapa skema kenaikan harga tarif dasar listrik (TDL) yang saat ini sebesar Rp 587 per kWh. PLN perlu kenaikan pendapatan karena biaya produksinya naik. Tahun 2005 PLN meminta subsidi Rp 10,77 triliun untuk beban kenaikan harga BBM dari Rp 1.650 menjadi Rp 2.200, ungkap Eddie.

Source : www.kompas.com