PWHT seharusnya segera dilakukan setelah welding. Namun kesulitannya adalah lokasi pengelasan bisa lebih dari 3, sehingga apabila menunggu semua selesai maka kondisi weld area yang lain sudah turun suhunya sehingga tidak dilakukan PWHT.

Pekerjaannya adalah repair part yang mengalami crack pada beberapa bagian tertentu dari sebuah part turbin. Problem utamanya adalah crack after weld di derah weld metal dan HAZ. Dan ini berulang setiap kali selesai welding.

Prosedur yang ada:

  1. Solution treatment 1900 degF for 2-5 hr
  2. Pre heat 450 degF and maintain during welding ( dibungkus dengan blanket)
  3. PWHT at 1200 degF for 2 hr

PWHT seharusnya segera dilakukan setelah welding. Namun kesulitannya adalah lokasi pengelasan bisa lebih dari 3, sehingga apabila menunggu semua selesai maka kondisi weld area yang lain sudah turun suhunya sehingga tidak dilakukan PWHT. Sementara kalau satu persatu setelah welding dilakukan PWHT di oven, maka bisa berakibat terjadinya efect thermal shock (?). Bagaimana cara melakukan PWHT tanpa di furnace pada suhu diatas tersebut?

Data lainnya:

  1. Process GTAW
  2. Filler ERNFe-CI (Nickel 44)/ERNI-3 (Nickel61)
  3. Ampere :120-250A
  4. Polarity DCSP
  5. Gas post Flow : 5-10 secon
  6. Technic stringer

Kalau dilihat dari subjeknya pengelasan austenitic nodular cast iron, bisa diyakini material tersebut termasuk alloy cast iron.

Tetapi alloy cast iron terbagi 4 group:

  1. Abrasion-resistant white irons, terdiri dari 6 grade
  2. Corosion-esistant irons, terdiri dari 4 grade
  3. Heat-resistant gray irons, terdiri dari 4 grade
  4. Heat-resistant ductile irons, terdiri dari 4 grade

Dari salah satu grade yang austenitic grade hanya dari kelompok heat resistant ductile iron. Chemical composition :

C = 1 – 2 %wt
Mn= 0.3-1.5 %wt
Si = 0.5 – 2.5 %wt
Ni = 10 – 15 %wt
Cr = 15 – 30 %wt

Untuk masalah pengelasan seyogyanya dipastikan spesifikasi materialnya terlebih dahulu, bila materialnya nodular cast iron, machting electrodenya ENiFeCI bisa menyelesaikan masalah. Dan sebaiknya perkecil heat input, intermitten dan kemudian lakukan pemukulan pada hasil las untuk menghilang stress. Juga sebaiknya menggunakan electrode negative (staight polarity).

Bila material yang dimaksud adalah heat resistant ductile iron grade austenitic, material jenis ini rentan terjadi retak pada saat pengelasan terutama bila terjadi syclic heating atau cooling. Disarankan agar tidak menggunakan GTAW welding, tetapi SMAW electrode negative diameter electrode yang paling kecil. Kalau memungkinkan lakukan preheat satu part atau unit dan dijaga panasnya, proses pendinginannya berlahan.

Nodular cast iron pada umunya terasuk jenis yang ductile. Sesuai dengan namanya nodular bentuk graphite di dalam struktur mikronya bulat-bulat.

Coba digerinda dulu permukaan yang crack sebelum melakukan pengelasan sampai cracknya hilang semua. Lakukan Dye penetrenat test sebelum pengelasan untuk meyakinkan bahwa semua crack sudah tergerinda semua. Hal ini juga perlu dilakukan untuk membersihkan permukaan yang akan dilas dari kotoran operasi yang dapat menurunkan mutu las.

Lakukan juga gerinda untuk membuang ujung las-an sebelum melakukan penggantian kawat yang yang baru. Ujung las-an dari setiap satu kawat las biasanya lebih getas dari pada bagian tengahnya. Dengan membuang bagian yang lebih getas ini mudah-mudahan akan dapat menghilangkan potensi terjadinya crack setelah pengelasan.

‘Untuk pengelasan Cast Iron’ pasti ada fenomena crack jadi kuncinya : Weldernya harus yang sabar & teliti serta kawat lasnya jangan terlalu besar.

HEAT INPUT kecil maksudnya disini adalah AMPERE dari pengelasannya sendiri. Hal ini keterkaitan dengan DIAMETER dari kawat tersebut. Serta Kecepatan waktu mendeposite weld metal tersebut. Memang lebih baik kita menggunakan metode STRINGER (DITARIK = dipinjam istilah dari welder bukan DIGOYANG) sangatlah cocok untuk type material ini. Selain itu metode akan menghasilkan WELD BEAD yang agak kecil dibanding bila kita menggunakan WEAVING METHOD. Dan perlu diingat juga, lebih baik kita menggunakan CURRENT METHOD – DCEN. Karena masukan panas akan lebih banyak terkonsentrasi di BASE MATERIAL. Kalau menggunakan current method DCEP konsentrasi panas akan mengarah ke ELECTRODE maka kecenderungannya lapisan dari flux pada kawat tersebut akan cepat rontok sehingga cairan logam pengelasan tidak terlindungi oleh SLAG dari hasil pengelasan yang ujung-ujungnya akan menimbulkan KONSENTRASI TEGANGAN yang cukup besar pada cairan logam las-an jika kita menggunakan WELDING PROSES SMAW. Padahal karakteristik dari applikasi pengelasan ini SLOW COOLING.

Alangkah baiknya kalau kita melakukan pengelasan cast iron dengan menggunakan PROSES SMAW effesiensi cukup significant bila kita menggunakan GTAW PROSES.

Metode intermitten dan back step welding faktor penentu juga, kalau bisa kita jangan menghabiskan satu kawat didalam aplikasinya, atur panjang las-an kira-kira 50 mm kemudian kita lompati baru lakukan deposite pengelasan.