Pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Batu Bara Indonesia menaikkan harga penawaran batu bara untuk PT PLN hingga sesuai dengan harga pasar internasional.

Pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Batu Bara Indonesia menaikkan harga penawaran batu bara untuk PT PLN hingga sesuai dengan harga pasar internasional. Apabila menolak, PLN bisa kekurangan pasokan karena pengusaha memilih mengekspor batu bara.

Demikian diutarakan Perusahaan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Batu Bara Indonesia Jeffrey Mulyono di Jakarta, Kamis (8/9). Harga pasar untuk batu bara yang biasa dipasok ke pembangkit listrik PLN sebesar 30 dollar AS per ton.

Apabila tak cocok dengan harga yang ditawarkan, PLN bisa kekurangan pasokan batu bara. PLN pernah menghadapi krisis pasokan batu bara pada tahun 2001 dan tahun 2004.

Direktur Utama PLN Eddie Widiono mengingatkan produsen batu bara untuk memikirkan kepentingan bangsa. Jika PLN kesulitan pasokan batu bara, justru akan menyulitkan rakyat dan memukul balik pengusaha.

Sudah mengajukan

Menurut Jeffrey, pengusaha sudah mengajukan harga yang baru kepada PLN, kini menunggu keputusan untuk memilih sumber pasokan batu bara yang sesuai dengan harga PLN. ‘Mudah-mudahan PLN sudah bisa menerima harga yang ditawarkan pengusaha sehingga tidak tersandung masalah yang sama,’ papar Jeffrey.

Ia berharap PLN tak membandingkan harga penawaran mereka dengan batu bara produksi penambangan ilegal yang jauh lebih murah. Jika membeli batu bara yang tak berkualitas, pembangkit bisa rusak.

Direktur Pembangkitan PLN Ali Herman Ibrahim mengatakan, selama ini PLN sudah membeli batu bara dengan harga yang cukup kompetitif. Harga beli kami Rp 273.000 per ton, saya kira para pengusaha sudah cukup untung. Kalau sampai mereka minta kenaikan sampai Rp 350.000 per ton, beban PLN akan semakin berat kata Ali.

Ia menampik tudingan para pengusaha bahwa PLN diam- diam juga membeli batu bara dari penambangan ilegal.

Sulit menerima

Jeffrey mengatakan, PLN selalu keberatan dengan harga pasar karena tak mendapat kebebasan dari pemerintah untuk menaikkan tarif sesuai biaya produksi yang sesuai dengan harga pasar. Akan tetapi, sebenarnya jika PLN membeli batu bara dengan harga pasar, biaya yang dikeluarkan tetap lebih murah dibandingkan dengan memakai bahan bakar minyak yang saat ini dibeli sesuai dengan harga pasar.

Padahal, kalau membangkitkan listrik dengan bahan bakar solar, tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan batu bara. Jadi, kalau mengeluarkan biaya sekitar Rp 300.000 untuk satu ton batu bara, sama dengan membakar solar sebanyak tiga barrel atau 477 liter.

Harus disubsidi

Secara terpisah, Direktur Niaga dan Pelayanan Umum PLN Sunggu Aritonang mengatakan, PLN tidak akan mampu menanggung pemakaian bahan bakar minyak di luar kuota dengan harga nonsubsidi. Langkah PLN menaikkan tarif industri saat beban puncak kemarin jangan dilihat sebagai upaya PLN untuk menutup kerugian. Tanpa itu, PLN sudah pasti bakal ambruk, apalagi sekarang harus membayar dengan harga pasar, kata Sunggu.

Padahal, pada 25 Agustus lalu, PLN telah didukung Komisi VII untuk mendapatkan dana tambahan sebesar Rp 8,4 triliun. Dana itu menggenapi Rp 4,1 triliun dari alokasi dana awal untuk mendukung kewajiban pelayanan publik PLN. Tahun ini PLN membutuhkan sekitar Rp 15 triliun untuk menutupi kebutuhan BBM pembangkit.

Source : www.kompas.com