Dalam kasus penyelundupan minyak lewat pipa di perairan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, diketahui, Pertamina dan agen kapal tidak melaporkan kedatangan kapal-kapal tanker kepada Administratur Pelabuhan Balikpapan.

Dalam kasus penyelundupan minyak lewat pipa di perairan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, diketahui, Pertamina dan agen kapal tidak melaporkan kedatangan kapal-kapal tanker kepada Administratur Pelabuhan Balikpapan.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla Selasa (13/9) malam mengatakan, harga BBM akan naik per 1 Oktober 2005. Ia juga menegaskan, pemerintah sudah siap untuk menerima protes atas kebijakannya itu.

Tidak tercatat

Dalam catatan daftar kapal di Administratur Pelabuhan (Adpel) Balikpapan tidak tercatat nama kapal Motor Tanker (MT) Rejoice, MT Sunrise, dan MT Tioman yang kemudian diketahui digunakan untuk menyelundupkan minyak.

Kepala Adpel Balikpapan Susetyo W Hadi ketika dijumpai hari Selasa (13/9) mengatakan, semestinya Pertamina dan agen kapal melaporkan kedatangan kapal kepada adpel setempat dalam waktu 1 x 24 jam. Selain nama dan asal kapal, seharusnya dilaporkan pula soal bendera dan muatan kapal.

”Yang dilaporkan Pertamina selama ini hanya kapal-kapal besar berbobot mati di atas 50.000 ton. Ketiga kapal tanker yang digunakan untuk menyelundupkan minyak itu tidak tercantum dalam daftar kami,” kata Susetyo sambil menyodorkan daftar nama kapal, tanggal kedatangan dan keberangkatan, serta bobot kapal.

Ketiga kapal tersebut bisa lolos dari pengawasan petugas Adpel Balikpapan karena penyedotan minyak dilakukan di tengah laut di sekitar Tanjung Jumelai, yang masuk wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara, sekitar 15 mil dari pintu Pelabuhan Balikpapan. Penyedotan minyak menggunakan pipa di tengah laut juga dilakukan sekitar pukul 01.00 Wita dengan memanfaatkan kelengahan petugas.

”Kami tidak mungkin berpatroli hingga jauh ke tengah laut karena ombaknya besar, sedangkan speedboat yang kami miliki ukurannya kecil,” kata Susetyo.

Berdasarkan penyelidikan polisi, MT Rejoice menyedot 2.500 ton minyak mentah pada Oktober 2004 dan 2.600 ton pada Desember 2004. Kapal MT Sunrise menyedot minyak 2.300 ton pada Maret 2005 dan 2.400 ton pada Juni 2005, yang kemudian diselundupkan.

Kapal MT Tioman menyedot 2.881 ton minyak mentah pada 21 Agustus 2005 dan kemudian tertangkap KRI Multatuli pada 27 Agustus 2005 di perairan Riau ketika akan menyelundupkan minyak ke Singapura.

Kapal tanker yang tercatat meninggalkan Pelabuhan Balikpapan selama Agustus 2005 adalah MT Gemmar George (3 Agustus), MT Endless (6 Agustus), MT Sentosa Spirit (8 Agustus), dan MT Platres (11 Agustus).

Tercatat pula, kapal MT Ocean Apex yang meninggalkan Pelabuhan Balikpapan 13 Agustus dan MT Bunga Kelana (30 Agustus). Keenam kapal itu berbobot mati antara 54.000 hingga 80.000 GT (gros ton), sedangkan tanker yang digunakan untuk menyelundupkan minyak mentah ukurannya lebih kecil, yakni 2.300-2.600 GT.

Pada Juni 2005 kapal MT Sunrise tidak dilaporkan masuk Pelabuhan Balikpapan. Bulan Juni 2005 tanker yang tercatat masuk dan meninggalkan Pelabuhan Balikpapan adalah MT Desh Rashak berbendera Brunei Darussalam, Le Pasific berbendera Hongkong, MT Bunga Kelana asal Dumai, dan MT British Osprey yang berbendera Australia.

Penegasan Wapres

Wakil Presiden Jusuf Kalla semalam menggelar sosialisasi rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak kepada puluhan anggota DPR di halaman tengah kediamannya di Jalan Diponegoro, Jakarta. Ia menegaskan, tanggal 1 Oktober 2005 adalah waktu yang tepat untuk menaikkan harga BBM.

”Mengenai timing, menurut saya semua waktu itu baik. Kenapa? Katakanlah pemerintah mengambil 1 Oktober, lima hari sebelum puasa, justru itu adalah hari-hari terbaik karena pada bulan puasa orang hanya memasak dua kali. Jadi kebutuhan minyak tanah kecil, kita disunahkan untuk betul-betul berhemat, jangan suka marah, dan sabar juga,” ujarnya.

Penjelasan Kalla merupakan jawaban atas pertanyaan anggota DPD DKI Jakarta, Marwan Batubara, mengenai timing kenaikan BBM yang tidak tepat. Dalam sosialisasi, Ketua DPD Ginandjar Kartasasminta membuka acara dengan perkenalan dan permintaan kepada Kalla untuk memberikan penjelasan tentang rencana kenaikan harga BBM dari mulut pertama kepada DPD sebagai bahan pertimbangan kepada DPR.

Ketika Kalla memberikan penjelasan, dibagikan berlembar-lembar kajian dan penjelasan yang telah disiapkan pemerintah mengenai rencana kenaikan harga BBM. Dibeberkan data yang menunjukkan bahwa di Indonesia harga minyak tanah adalah termurah di dunia, harga premium termurah kedua di dunia setelah Kuwait, dan harga solar termurah ketiga di dunia setelah Arab Saudi dan Brunei Darussalam.

Kalla meyakinkan DPD, rencana kenaikan harga BBM bulan Oktober tidak merugikan rakyat miskin sama sekali. Yang akan terkena dampaknya adalah kelompok menengah ke atas, tetapi hal tersebut pun tidak akan memunculkan masalah karena setelah itu akan ada penyesuaian secara alamiah.

”Inflasi bulan Oktober pasti akan naik sekitar 3 persen seperti yang sudah-sudah. Tetapi, setelah penyesuaian, bulan berikutnya akan turun bersamaan dengan hilangnya efek psikologis dari kenaikan harga BBM,” ujarnya.

Kalla juga menyatakan siap dengan segala konsekuensi kenaikan harga BBM tersebut, termasuk dijadikan sasaran ketidakpuasan melalui unjuk rasa. ”Bapak-bapak akan aman. Yang didemo kami-kami ini. Tidak apa-apa. Kami siap-siap saja. Apa boleh buat, demi kelangsungan ekonomi bangsa,” ujarnya.

Enam tersangka baru

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Timur (Kaltim) Komisaris Besar Wayan Tjatra mengatakan, polisi menetapkan lagi enam tersangka baru dalam kasus penyelundupan minyak, yakni SY, KT, SR, RJ, AS, dan SG. Semuanya anak buah kapal yang dilibatkan dalam penyelundupan minyak terkait.

Dengan demikian, sudah 30 orang yang dijadikan tersangka, 14 di antaranya ditahan, termasuk tujuh karyawan Pertamina Balikpapan. Pejabat paling tinggi yang ditahan adalah Sumardiyono, Pengawas Jaga Terminal Lawe-lawe.

Menurut Wayan Tjatra, polisi masih mengembangkan kasus ini dengan memeriksa petugas Adpel Balikpapan serta petugas Bea dan Cukai Balikpapan karena setiap kapal yang masuk dan meninggalkan Pelabuhan Balikpapan seharusnya diketahui oleh kedua instansi tersebut.

Polisi baru sampai pada tahap rekonstruksi modus penyelundupan. Dari rekonstruksi itu diketahui, minyak mentah dari tanker masuk lewat SBM (single buoy mooring) yang ada di tengah laut ke dalam pipa sepanjang 17,5 kilometer berdiameter lebih kurang 24 inci atau 60 sentimeter.

Keran di bagian pangkal pipa itu ditutup sehingga minyak mentah tidak bisa mengalir ke Terminal Lawe-lawe. Dalam kondisi keran ditutup, volume minyak mentah dalam pipa itu ada 92.000 ton.

Pergantian direksi Pertamina

Secara terpisah, Menteri Negara BUMN Sugiharto mengatakan, pemerintah akan mempercepat proses pergantian direksi Pertamina setelah terungkapnya kasus penyelundupan minyak mentah di Kaltim. Namun, perubahan direksi tetap menunggu penyempurnaan dari proses pemilihan calon direksi baru.

”Penyelundupan ini terjadi sejak lebih dari 10 tahun lalu sehingga kejadian ini menunjukkan kegagalan sistem yang dibangun direksi. Tetapi, kegagalan itu berarti juga kegagalan manajemen dan direksi tidak bisa lepas tanggung jawab,” ujar Sugiharto.

Ia menambahkan, direksi Pertamina memfasilitasi pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak berwajib. Pertamina diminta memberikan semua informasi yang dibutuhkan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengatakan, penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) terjadi akibat perbedaan harga dengan pasar internasional yang begitu besar. ”Selama disparitas harga di dalam dan di luar negeri besar, penyelundupan akan terus terjadi,” katanya.

Di dalam negeri, disparitas harga yang sangat besar antara solar dan minyak tanah memicu terjadinya penyelewengan minyak tanah. Menurut Purnomo, idealnya perbedaan harga solar dan minyak tanah hanya sekitar Rp 500 per liter. ”Dengan perbedaan harga antara minyak tanah dan solar sampai Rp 1.500, hanya jual 10 liter saja sudah bisa dapat Rp 15.000,” katanya.

Direktur Utama Pertamina Widya Purnama tidak menampik kemungkinan minyak mentah yang dicuri dari penampungan Pertamina dijual kembali ke kilang-kilang Pertamina karena minyak yang bisa diolah di kilang sangat spesifik.

Deputi Operasi Kepala Polri Inspektur Jenderal Didi Widayadi mengatakan, sebagai tindak lanjut kesepakatan bersama TNI dan Polri tanggal 18 Juli 2005 serta kesepakatan Polri dan Pertamina Senin lalu, Polri akan membentuk satuan tugas (satgas) bersama yang melibatkan TNI, Bea dan Cukai, Pertamina, serta Departemen Hukum dan HAM. Satgas ini mengawasi aliran suplai minyak mentah ke kilang hingga alur distribusi BBM dari kilang ke depo, agen, pangkalan, sampai ke konsumen.

Wakil Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigjen (Pol) Soenarko kemarin mengungkapkan, dua tersangka jaringan pencurian minyak mentah di Kaltim dipindahkan dari tahanan Mabes Polri di Jakarta ke Polda Kaltim di Balikpapan. Tersangka yang dipindahkan itu adalah Robert Ratumbanua dan Sumardiono. ”Di Kaltim ada 16 tersangka, terdiri dari lima pegawai Pertamina, lima karyawan kontrak, seorang tenaga bantuan, dan lima anak buah kapal,” kata Soenarko.

Source : www.kompas.com