Upaya pemerintah menjaga konsumsi BBM bersubsidi sesuai dengan kuota sulit terlaksana.

Upaya pemerintah menjaga konsumsi BBM bersubsidi sesuai dengan kuota sulit terlaksana. Pertamina mengaku kewalahan jika pemerintah meminta agar permintaan pasar tetap dipenuhi untuk mencegah terjadinya kelangkaan BBM, terutama minyak tanah.

Direktur Niaga dan Pemasaran Pertamina Ari Soemarno mengemukakan hal itu dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Kamis (15/9) di Jakarta.

Menurut Ari, jumlah pengambilan bahan bakar minyak (BBM) naik sejak pemerintah menyampaikan bahwa harga BBM akan naik pada Oktober 2005. ”Jatah SPBU yang biasanya sampai tiga hari, sekarang habis dalam sehari,” kata Ari.

Data Pertamina menunjukkan, jumlah penyaluran BBM terus naik dari rata-rata 178.000 kiloliter per hari pada Agustus menjadi 184.000 kiloliter per hari belakangan ini. Meskipun konsumsi BBM memang selalu naik menjelang bulan Puasa dan Lebaran, permintaan yang melonjak saat ini, antara lain, diduga karena kepanikan masyarakat.

”Nyatanya, meskipun sekarang digerojok sampai 194.000 kiloliter per hari, tetap saja kekurangan,” ujar Ari.

Kekurangan pasokan minyak tanah dan solar yang terjadi belakangan ini dinilai sebagai reaksi masyarakat yang berupaya menimbun BBM karena harga bakal dinaikkan. ”Di Kalimantan misalnya, semua kendaraan umum sekarang kerjanya antre di SPBU untuk membeli solar, lalu menjualnya kembali. Semua orang melakukan perdagangan kembali. Sama dengan minyak tanah, suplai dibatasi kuota tapi permintaannya tidak dibatasi. Bagaimana bisa diketahui memang mereka yang berhak mendapat BBM subsidi itu yang menerima. Nyatanya, dengan disparitas harga yang besar semua ikut bermain, mulai dari ibu rumah tangga sampai industri,” kata Ari lagi.

Praktik ini, lanjutnya, terjadi di mana-mana yang kemudian dibaca sebagai tanda terjadi kelangkaan, padahal stok BBM nasional cukup untuk 22 hari.

Dengan kondisi itu, upaya menahan kuota BBM pada angka 59,6 juta kiloliter sampai akhir tahun sukar dilakukan. Dengan rata-rata pengambilan 184.000 kiloliter per hari saja, realisasi distribusi BBM diperkirakan mencapai 65,6 juta kiloliter.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menginstruksikan agar berapa pun permintaan pasar dipenuhi. ”Jadi, terus terang kami bingung, stok yang ditambah itu tetap harus disubsidikan, sedangkan harga produk BBM di pasar internasional tetap tinggi,” kata Ari menambahkan.

Panitia Kerja A Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) perubahan tahap kedua berupaya menekan subsidi BBM ke angka Rp 89,2 triliun dan mempertahankan kuota tetap 59,6 juta kiloliter dari perkiraan realisasi 65 juta kiloliter.

Di tempat terpisah, Menteri Keuangan Jusuf Anwar mengatakan, pemerintah telah mengimbau masyarakat agar menghemat BBM. Kendati demikian, pemerintah tak akan menambah kuota BBM karena penambahan berarti pembengkakan subsidi yang memberatkan keuangan negara.

Terkait dengan rencana kenaikan harga BBM, dia mengatakan Senin nanti pemerintah akan menentukan opsi yang akan dipilih. Namun, disiapkan beberapa skenario. Pemerintah telah menghitung berapa besar subsidi yang ditanggung jika harga BBM dinaikkan 25 persen, 30 persen, atau 50 persen, termasuk konsekuensi dan dampaknya, terutama terhadap inflasi.

Terus terjadi

Anggota Komisi VII DPR, Tjatur Sapto Edy, mengatakan, kelangkaan minyak tanah akan terus terjadi karena pemerintah salah kaprah dalam mendefinisikan konsumen minyak tanah dan cara distribusi BBM. ”Ini kan barang bersubsidi, tapi diperjualbelikan bebas, ya jelas saja terus terjadi kekurangan,” katanya.

Terkait dengan masalah kelangkaan BBM, Komisi VII DPR akan membentuk panitia kerja (panja) suplai BBM dan minyak mentah. Panja akan mengidentifikasi masalah-masalah penyelewengan BBM dengan memanggil instansi terkait.

Dari lintas pantai utara Jawa (pantura) dilaporkan, pengguna peralatan berat yang sedang mengerjakan ruas jalan dan jembatan di sepanjang pantura kesulitan mendapatkan BBM. Bahkan, sering kali operator harus ikut antre berjam-jam di SPBU dengan jumlah yang didapatkan sangat terbatas. Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan pembangunan jalan dan jembatan di kawasan itu takkan selesai sebelum Lebaran awal November mendatang.

Sejak sebulan lalu sedang dilakukan pelebaran badan jalan dari dua lajur menjadi empat lajur sejauh 20 kilometer dan pembangunan sembilan jembatan di pantura Jawa. Kegiatan itu ditargetkan selesai tujuh hari menjelang Lebaran. Total kebutuhan solar minimal 2.500 liter per hari.

Belum terlacak

Dari Balikpapan, Kalimantan Timur, dilaporkan, uang hasil penyelundupan 12.600 ton minyak mentah senilai lebih kurang Rp 25 miliar belum terlacak penerimanya. Nakhoda kapal tanker yang tertangkap saat akan menyelundupkan minyak mentah dari Terminal Lawe-lawe ke Singapura, berdasarkan pengakuannya, hanya menerima Rp 40 juta, sedangkan enam anak buah kapal menerima sekitar Rp 15 juta hingga Rp 25 juta sekali menyelundup.

Penyelundupan minyak tersebut, berdasarkan penyelidikan Kepolisian Daerah Kalimantan Timur, dilakukan lima kali sejak Oktober 2004 hingga Agustus 2005 dengan menggunakan tiga kapal tanker. Adapun jumlah minyak yang diselundupkan 12.600 ton atau setara 79.380 barrel, dengan harga penjualan minyak mentah kepada Mr Lie, penampung di Singapura, sebesar 35 dollar AS per barrel.

Source : www.kompas.com