Kasus pencurian minyak mentah dari Terminal Lawe-lawe di Balikpapan mengungkapkan lemahnya sistem pengawasan. Di lapangan ditemui banyak alat ukur tangki otomatis yang tidak berfungsi.

Kasus pencurian minyak mentah dari Terminal Lawe-lawe di Balikpapan mengungkapkan lemahnya sistem pengawasan. Di lapangan ditemui banyak alat ukur tangki otomatis yang tidak berfungsi.

General Manager Unit Pertamina V Balikpapan Syahrul Arifin, Minggu (18/9), mengakui bahwa pihaknya kesulitan untuk mengawasi secara langsung.

Sebenarnya di setiap tangki ada alat ukur otomatis yang bisa memantau kondisi minyak di tangki setiap saat. Tetapi, beberapa dari alat itu tidak berfungsi karena komputer utamanya rusak, papar Syahrul.

Terminal Lawe-lawe yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan minyak mentah yang akan diolah di Kilang Balikpapan. Minyak mentah tersebut ada yang berasal dari lapangan-lapangan di Kalimantan maupun minyak mentah impor.

Setiap bulannya sekitar 6-9 juta barrel minyak mentah masuk untuk diolah di dua kilang Balikpapan yang berkapasitas 260.000 barrel per hari.

Dengan kondisi peralatan ukur otomatis yang rusak, pengawasan dari kilang Balikpapan ke Terminal Lawe-lawe hanya bisa dilakukan sekali setiap hari setelah petugas mengecek secara manual ke setiap tangki. Di Lawe-lawe ada tujuh tangki berkapasitas 800.000 barrel.

Untuk mencegah kasus pencurian serupa terulang, Pertamina akan melengkapi fasilitas tangki dan kilang di Balikpapan dengan alat ukur otomatis. Pemasangan alat itu akan diterapkan di seluruh unit pengolahan Pertamina.

Manajer Hubungan Pemerintah dan Masyarakat Pertamina Pusat Djauhari Kun Setiyanto mengatakan, untuk tahap awal, ada 23 alat ukur otomatis yang akan dipasang, dari total rencana 123 titik.

Alatnya akan disewa selama lima tahun, biaya yang dibutuhkan mungkin sekitar Rp 4 miliar- Rp 5 miliar, ujarnya.

Source : www.kompas.com