Panitia Anggaran DPR sepakat memilih opsi kedua yaitu hanya menyediakan subsidi BBM sebesar Rp 89,2 triliun dengan konsekuensi ada kenaikan harga BBM.

Panitia Anggaran DPR sepakat memilih opsi kedua yaitu hanya menyediakan subsidi BBM sebesar Rp 89,2 triliun dengan konsekuensi ada kenaikan harga BBM.

Hasil kesepakatan panggar DPR ini akan dibawa ke rapat paripurna DPR tanggal 27 September 2005 untuk pandangan umum fraksi-fraksi.

‘Yang kita bawa ke paripurna adalah opsi kedua dengan banyak sekali catatan,’ kata Ketua Panitia Anggaran Emir Moeis seusai rapat pleno Panitia Anggaran DPR RI di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (20/9/2005).

Disampaikan Emir, bahwa di fraksi-fraksi di Panitia Anggaran yakni Fraksi Partai Demokrat, Fraksi Partai Golkar, Fraksi Partai Damai Sejahtera dan Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi memilih opsi kedua.

Sementara Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) dan Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) memilih opsi kedua namun dengan catatan.

Namun Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP) memilih opsi pertama yaitu mempertahankan subsidi sebesar Rp 113,7 triliun dengan tidak ada kenaikan BBM. Sementara Fraksi PKS pilih tidak memilih baik opsi kesatu mapun opsi kedua.

‘Ini merupakan gambaran yang akan dibawa ke paripurna untuk pandangan fraksi-fraksi. Dalam paripurna bisa saja terjadi voting dan hal tersebut tidak tertutup kemungkinan voting,’ kata Emir.

Menteri Keuangan Jusuf Anwar mengatakan pemerintah meminta opsi kedua yang dipilih karena opsi kedua memberikan kredibilitas yang baik kepada DPR maupun kepada pemerintah bahwa pemerintah dan DPR mampu menyelesaikan fundamental fiskal secara benar.

‘Jika memilih opsi satu bolongnya gede, berarti kita tidak mampu mengelola fiskal. Itu yang menyebabkan kredibilitas dan kepercayaan pada pemerintah menjadi turun,’ kata Jusuf.

Menkeu berharap bahwa sidang paripurna akan berpendapat sama dengan pemerintah. ‘Kenaikan BBM itu kan diputuskan di parlemen. Dan dewan sendiri mengakui bahwa itu domain pemerintah dan nanti kita lihat hitung-hitungannya bagaimana menyelamatkan fiskal ini,’ ujar Jusuf.

Source : www.detikfinance.com