Panitia Kerja Anggaran DPR dan pemerintah menyepakati asumsi-asumsi makro sebagai dasar perhitungan RAPBN 2006, antara lain harga minyak 57 dolar AS per barel atau lebih tinggi dari usulan pemerintah USD50-55 per barel.

Panitia Kerja Anggaran DPR dan pemerintah menyepakati asumsi-asumsi makro sebagai dasar perhitungan RAPBN 2006, antara lain harga minyak 57 dolar AS per barel atau lebih tinggi dari usulan pemerintah USD50-55 per barel.

Ketua Panja A Amin Said Husni di Jakarta, Selasa (27/9), menyatakan tingginya penetapan asumsi harga minyak itu dengan memperhatikan tren harga minyak yang masih tetap tinggi di atas 60 dolar AS per barel akibat pasokan minyak dunia yang terbatas.

‘Kemungkinan harga minyak untuk turun di bawah 60 dolar AS per barel masih sulit, apalagi pasokan dunia akan terus berkurang. Tetapi kita tidak berani mematok harga terlalu tinggi, jadi diputuskan 57 dolar AS,’ katanya.

Sementara mengenai asumsi makro lainnya, pertumbuhan ekonomi ditetapkan 6,1 persen atau masih dalam usulan pemerintah 6,0 – 6,2 persen. Nilai tukar rupiah disepakati Rp9.900 per dolar AS atau di antara kisaran yang diajukan pemerintah Rp9.500 – Rp10.000.

Sedangkan suku bunga SBI tiga bulan ditetapkan 9,5 persen dari usulan yang diusulkan pemerintah 8,25 – 10 persen. Inflasi ditetapkan 8 persen dari kisaran yang diusulkan pemerintah 7 – 8 persen dan produksi minyak disepakati sebesar 1,110 juta barel per hari atau di atas usulan pemerintah 1,075 juta barel per hari.

Menurut Amin, pembahasan besaran pendapatan, belanja serta defisit RAPBN 2006 akan dibahas setelah penentuan asumsi makro ini dan diharapkan selesai sebelum akhir Oktober 2005.

‘Kita harus menyelesaikannya sebelum 31 Oktober, karena menurut undang-undang APBN harus selesai 2 bulan sebelum tahun anggaran berjalan. Mungkin pada masa reses DPR pekan depan kita akan tetap bekerja,’ katanya.

Source : www.mediaindo.co.id