Volatilitas harga minyak dunia benar-benar mencemaskan terutama untuk negara importir minyak.

Volatilitas harga minyak dunia benar-benar mencemaskan terutama untuk negara importir minyak. Baru saja tenang beberapa hari, harga minyak mulai kembali naik.

Harga minyak di pasar Asia telah mencapai US$ 66 per barel karena kekhawatiran pasar terhadap kilang minyak AS yang ditutup. Kenaikan ini dipicu oleh spekulasi bahwa penutupan penyulingan minyak di Texas dan Louisiana kemungkinan akan dilakukan lebih lama dari yang diperkirakan.

Sedangkan harga minyak di Pasar New York pada Selasa ini (27/9/2005) untuk jenis light sweet pengiriman November 2005 naik 13 sen ke level US$ 65,95 per barel dibanding penutupan Senin (26/9/2005) di level US$ 65,82 perbarel.

Harga minyak kontrak dalam waktu dekat juga diperkirakan akan menyentuh level tertinggi US$ 66,17 per barel.

Sejumlah analis terus mencermati pernyataan yang dikeluarkan Presiden AS George W. Bush, bahwa pihaknya akan menerapkan Strategi Cadangan Minyak. Strategi ini dibutuhkan oleh kilang minyak yang sedang berusaha keras untuk kembali memenuhi kapasitasnya setelah terjadinya badai Rita.

‘Semakin sering Presiden Bush mengatakan tentang strategi cadangan minyak, maka kita semakin banyak tahu bahwa tidak akan ada produksi minyak lebih yang diberikan,’ kata Fadel Gheit, analis minyak dari Oppenheimer and Co seperti dilansir AFP, Selasa (27/9/2006).

Menurutnya, masalah yang ada bukan terletak pada minyak mentahnya tapi kapasitas dari kilang minyak yang ada yang harus segera diperbaiki. Pasalnya, produksi minyak terus menunjukkan penurunan untuk wilayah di Teluk Meksiko. Lebih dari 78 persen produksi di lokasi ini seperti gas telah berhenti.

Sebenarnya, kilang minyak di Teluk Meksiko baru saja diperbaiki dari kerusakan yang ditimbulkan badai Katrina selama empat hari yang lalu. Namun pekerjaannya terpaksa dihentikan menyusul adanya evakuasi ratusan pekerja karena datangnya badai Rita. Meski demikian, pasar menilai dampak dari badai Rita relatif lebih sedikit dibanding Katrina.

Source : www.detikfinance.com