Salah satu potensi yang sangat besar adalah batubara muda yang bisa dijadikan minyak mentah sintetis.

Untuk mendapatkan nilai tambah penambangan batubara dan upaya penghematan BBM yang sekarang makin langka dan mahal, Indonesia semestinya berupaya terus mencari bahan bakar alternatif, termasuk pengembangan minyak bumi sintetis.

Salah satu potensi yang sangat besar adalah batubara muda yang bisa dijadikan minyak mentah sintetis. Hal ini dikemukakan oleh Udiansyah, Mauludin Agus, dan Adip Mustafa, staf pengajar dari Fakultas Kehutanan, Perikanan, dan Teknik dari Universitas Mulawarman dalam pertemuan Majelis Perguruan Tinggi Negeri Seluruh Indonesia di Banjarmasin, 26/9.

‘Harga jual minyak bumi sintetis ini juga cukup baik, yakni 25 dollar hingga 33 dollar AS/barrel dengan biaya produksi hanya 20 dollar. Sementara harga minyak mentah sekarang mencapai 65 dollar/barrel,’ katanya.

Menurut Udiansyah, upaya mencari energi alternatif dan perbaikan terhadap lingkungan menjadi sangat mendesak bagi Indonesia. Selama ini kegiatan eksploitasi sumber daya alam (SDA) baik di sektor kehutanan maupun pertambangan masih jauh dari sistem berkelanjutan.

Pengelolaan SDA di Tanah Air sekarang ini justru masih memakai sistem ekonomi ‘koboi’, yakni suatu sistem perekonomian yang terus-menerus ekspansif dan ekstraktif terhadap SDA. Dalam sistem ini, masalah tata ruang menjadi terabaikan, hukum nyaris seperti hukum rimba, yang kuat itu yang menang.

Akibat pengelolaan dengan sistem ‘koboi’ tersebut, kalau tahun 1980-an hutan Indonesia masih 140 juta hektar, sekarang tinggal 120,4 juta hektar. Itu pun sekitar 59 juta hektar di antaranya dalam keadaan hutan kritis.

Setiap tahun laju degradasi hutan di Indonesia mencapai 2,83 juta hektar. Hal ini terjadi akibat tingginya penebangan dan perdagangan kayu ilegal, perambahan dan kebakaran, serta lemahnya penegakan hukum.

Sementara untuk pertambangan batubara, dalam sepuluh tahun terakhir rata-rata produksi meningkat 10 juta ton per tahun. Tahun 2004 produksi 132,4 juta ton, dan diprediksi pada tahun 2020 sudah mencapai 450 juta ton per tahun.

Source : www.miningindo.com