PT Pertamina (Persero) masih mempertimbangkan secara matang harga BBM bagi industri bulan Oktober 2005, karena tingginya harga komoditas tersebut di pasar internasional.

PT Pertamina (Persero) masih mempertimbangkan secara matang harga bahan bakar minyak (BBM) bagi industri bulan Oktober 2005, karena tingginya harga komoditas tersebut di pasar internasional. ‘Malam ini, harga BBM industri masih terus dibahas,’ kata Kepala Divisi Humas Pertamina Abadi Poernomo di Jakarta, Selasa (4/10).

Namun, ia tidak bisa memastikan kapan Pertamina menetapkan harga BBM bagi industri. ‘Kita lihat perkembangan, berapa harga BBM industri yang tepat,’ katanya.

Biasanya, per tanggal satu setiap bulannya, Pertamina memperbaharui harga BBM industri mengikuti fluktuasi harga BBM di pasar internasional. Pada 1 September 2005, Pertamina menetapkan harga BBM industri jenis premium sebesar Rp 5.160, minyak tanah Rp 5.600, minyak solar Rp 5.350, minyak diesel Rp 5.130 dan minyak bakar Rp 3.150.

Namun, pada bulan Oktober ini yang sudah memasuki hari keempat, Pertamina belum juga mengeluarkan daftar harga BBM industri.

Sebelumnya, Direktur Niaga dan Pemasaran Pertamina Ari Soemarno mengatakan, Pertamina masih menunggu keputusan kenaikan harga BBM, sebelum menetapkan harga BBM industri. ‘Karena kita harus mengacu keputusan kenaikan tersebut sebelum menyesuaikan harga BBM industri,’ katanya pada Jumat (30/9) beberapa saat sebelum pemerintah menaikkan harga BBM.

Namun, sekarang ini, tiga hari setelah kenaikan harga BBM bersubsidi diumumkan pemerintah, Pertamina belum juga menetapkan harga BBM industri.

Pada kesempatan itu, Ari sempat mengatakan, jika berdasarkan harga produk MOPS (Mid Oil Platt’s Singapore) pada Jumat (30/10) yang berkisar 80-85 dolar AS per barel, maka harga premium bisa menjadi Rp 7.200/liter dan solar Rp 7.000/liter. Sementara jika berdasarkan harga dasar bulan Agustus 2005, maka premium bisa Rp 6.300/liter, solar Rp 6.000/liter dan minyak tanah Rp 6.400/liter.

Source : www.mediaindo.co.id