Direktur Yayasan Peduli Timor Barat (YTB) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Ferdi Tanoni mengungkapkan, total cadangan minyak dan gas bumi (Migas) di laut Timor mencapai sekitar 5.081 juta barel.

Direktur Yayasan Peduli Timor Barat (YTB) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Ferdi Tanoni mengungkapkan, total cadangan minyak dan gas bumi (Migas) di laut Timor mencapai sekitar 5.081 juta barel.

Cadangan minyak tersebut termasuk di celah timor (Timor Gap) dan yang ditemukan di sekitar Pulau Pasir (Ashmore Reef) yang kini menjadi milik Australia, serta di di ladang Evans Shoal, Petrel-Tern Blacktip 1.540 juta barel, Elang-Kakatua, Bayu-Undan, dan Chudditch-Kuda-Tasi Jahal sebanyak 1.110 juta barel.

‘Cadangan minyak ini termasuk juga dengan 30 juta barel minyak yang telah dieksplorasi, serta ladang Greater Sunrise 1.920 juta barel, Laminaria-Corralina-Buffalo-Jabiru 410 juta barel,’ kata Ferdi kepada wartawan di Kupang, Rabu (5/10).

Menurut Ferdi, data mengenai cadangan minyak di laut Timor tersebut diperoleh dari jaringan Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) di Darwin, Australia Utara. Data tersebur diperoleh jaringan YPTB dari sejumlah perusahaan migas yang kini beroperasi di Laut Timor jauh sebelum Timor-Timur merdeka. Bahkan ada perusahaan migas yang telah beroperasi sejak 1986, atau sebelum penandatanganan perjanjian kerjasama pengolahan migas di Celah Timor antara Indonesai dan Australia, 11 Desember 1989 tetapi ia menolak menyebutkan nama perusahaan migas dimaksud.

Ferdi mengungkapkan, jaringan YPTB juga memperoleh informasi dari sejumlah ahli minyak di Australia yang mengatakan total cadangan migas di Laut Timor sesungguhnya jauh lebih besar dari data awal yang dikemukakan pemerintah Australia sebelumnya, yakni antara 50 sampai 75.

‘Karena itu, kami YPTB yakin angka cadangan migas yang diperoleh masih terus bertambah seiring eksploitasi terhadap ladang minyak di Celah Timor terus dilakukan,’ katanya.

Menurut Ferdi, sejak 1986, tiap harinya sekitar 250 ribu barel migas di laut Timor disedot oleh perusahaan minyak. Itu artinya harta pemerintah Indonesia di laut Timor telah disedot sejak lama dan Indonesia tidak akan pernah menikmati apa-apa dari migas tersebut.

Informasi lain yang diperoleh Ferdi dari jaringan YPTB menyebutkan, para ahli minyak meramalkan dengan angka produksi migas 250 ribu barel per hari, cadangan migas di laut Timor berumur antara 75 tahun-100 tahun.

Jika harga minyak dunia saat ini US$ 67, tiap tahunnya Laut Timor menghasilkan US$6,1 miliar (US $16,7 juta tiap hari). Nah, bila angka itu dikonversi ke rupiah dengan kurs Rp 10.300/dolar Amerika, produksi migas di laut Timor Rp 172 miliar/hari.

‘Kini, angka fantastis itu dikuasai Austaralia dan Timor-Timur saja. Itu pun Timor-Timur hanya kebagian 20-30 persen,’ katanya.

Menurut Ferdi, jika tidak ada sikap dari pemerintah Indonesia untuk segera merundingkan batas laut antara Indonesia-Timtim dan dengan Australia, Indonesia bakal hanya memperoleh dampak dari ekspolitasi minyak di laut Timor yaitu pencemaran laut.

Source : www.mediaindo.co.id