Pascakenaikan harga bahan bakar minyak, tiba-tiba masyarakat kesulitan mendapatkan gas elpiji.

Pascakenaikan harga bahan bakar minyak, tiba-tiba masyarakat kesulitan mendapatkan gas elpiji. Apabila ada, harganya jauh di atas harga Pertamina Rp 51.000 per tabung isi 12 kg. Hal ini memunculkan kekhawatiran masyarakat bahwa pemerintah akan segera menaikkan harga elpiji.

‘Tadi saya sudah mencari di dua toko dan semuanya mengaku tidak punya persediaan. Baru di sini saya mendapatkannya, tetapi harganya sudah mencapai Rp 70.000 per tabung,’ keluh Maryani, warga Ciledug, Tangerang, Rabu (5/10).

Meskipun ia sudah menawar hingga Rp 65.000, pedagang itu tetap bertahan. Si pedagang hanya mau melepas satu tabung elpiji isi 12 kg dengan harga sebesar Rp 70.000.

Secara resmi harga memang belum naik, masih Rp 53.000 per tabung. Namun sekarang barang mulai langka. Kemungkinan besar ini merupakan tanda-tanda harga akan naik. ‘Jadi, kalau dilepas dengan harga lama, bisa-bisa besok saya tidak dapat,’ jawab Joni, penjual gas elpiji.

Ia mematok harga Rp 70.000 per tabung elpiji isi 12 kg karena menurut isu yang didengarnya, harga bakal naik. Bahkan mungkin harganya mencapai Rp 90.000 per tabung.

Pasokan berkurang

Pranoto Adi, Kepala Bagian Umum PT Buana Nittanindo Gas, agen elpiji di Jakarta Barat, membenarkan bahwa pasokan elpiji belakangan ini berkurang. Jika biasanya dia mendapat kiriman 800 tabung per hari dari Pertamina, sejak Sabtu lalu kiriman yang diterimanya 300 tabung.

Namun, Pranoto mengatakan, kurangnya kiriman ini bukan karena harga gas elpiji akan naik, tetapi karena ketersendatan pasokan. Karena ada kapal pembawa elpiji yang belum dapat merapat di Tanjung Priok. Sementara pasokan dari Balongan, Jawa Barat, ke Jakarta juga tersendat karena perusahaan angkutannya mogok, ujar Pranoto.

Pasokan diperkirakan normal kembali Jumat (7/10). General Manager Gas Domestik PT Pertamina Edwin Bakti mengatakan, harga gas elpiji di eceran saat ini naik karena para dealer maupun pemilik toko membebankan kenaikan ongkos transportasi kepada konsumen. Itu sebabnya harga yang seharusnya Rp 51.000, di pasar Rp 60.000-Rp 70.000.

Edwin membenarkan bahwa Pertamina segera menaikkan harga elpiji akhir tahun ini. Kenaikan tak bisa ditunda lagi meskipun memang harga BBM baru naik. Begitu ada sinyal dari pemerintah, Pertamina segera naikkan harga elpiji, kata Edwin.

Menurut dia, para agen dan sub-agen elpiji sudah mendesak untuk menaikkan marjin keuntungan, dengan alasan mereka pun menanggung beban akibat kenaikan harga BBM.

Harga gas elpiji di luar negeri untuk Oktober ini sudah 500 dollar AS per ton. Pada September lalu harganya masih 400 dollar AS. Dengan kenaikan sebesar itu, Pertamina akan menghitung ulang persentase kenaikan. Semula kenaikan diperkirakan sekitar 20 persen. Saat ini harga elpiji per kilogram Rp 4.250.

Harga industri

Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2005, sejak 1 Oktober 2005 seluruh industri, kecuali industri kecil dan menengah, dengan pemakaian kurang dari 8.000 liter dan nelayan kecil dengan penggunaan kurang dari 25.000 liter dikenai harga pasar.

Kepala Divisi BBM Pertamina Achmad Faisal mengatakan, meskipun surat keputusan harga baru industri sudah ditandatangani, penerapannya baru akan dilakukan Sabtu ini. ‘Supaya ada kesempatan kepada unit Pertamina daerah melakukan sosialisasi ke industri,’ ujar Faisal.

Harga BBM industri per 1 Oktober naik jauh dibandingkan dengan September. Harga baru BBM industri per liter masing- masing menjadi premium Rp 6.290, minyak tanah Rp 6.400, minyak solar Rp 6.000, minyak diesel Rp 5.780, dan minyak bakar Rp 3.810.

Source : www.kompas.com