Sebelum mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak, pemerintah telah menggembar-gemborkan pemanfaatan energi alternatif.

Sebelum mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak, pemerintah telah menggembar-gemborkan pemanfaatan energi alternatif. Namun, pemakaian berbagai jenis energi nonfosil itu sampai sekarang hanya sekadar di tataran kampanye.

Untuk mengorek lebih jauh tentang rencana pemanfaatan energi non-BBM itu, Kompas mewawancarai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro di ruang kerjanya, Selasa (4/10).

Bagaimana pemerintah mendorong pemanfaatan energi alternatif pascakenaikan harga BBM?

Sebenarnya petunjuk pelaksanaan pengembangan energi alternatif secara detail sudah diatur dalam Pengelolaan Energi Nasional (PEN) yang telah lama disusun pemerintah. Dalam PEN, diatur mengenai roadmap pengembangan seluruh jenis energi alternatif.

Tetapi, yang paling pertama akan dilakukan dalam waktu dekat adalah mengeluarkan Inpres tentang biofuel. Inpres itu secara rinci memuat insentif untuk pengembangan biodiesel, termasuk instruksi kepada menteri-menteri untuk menindaklanjuti di departemen masing-masing.

Kedua, secara otomatis tanpa aturan baru pun pengembangan batu bara sudah berjalan. Pada bulan ini Presiden akan mencanangkan pemanfaatan batu bara secara besar-besaran. Dengan harga minyak tanah Rp 2.000 per liter, briket batu bara menjadi alternatif pengganti. Kita akan meningkatkan pemanfaatan kapasitas pabrik briket batu bara. Saat ini kapasitas produksinya mencapai 120.000 ton per hari, tetapi yang baru digunakan hanya 20.000 ton.

Syukur, sudah banyak pihak yang akan ikut mengembangkan briket batu bara. Salah satunya Hiswana (Himpunan Wiraswasta Nasional) Migas yang bekerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia dan koperasi yang mengembangkan batu bara.

Apakah ada insentif bagi pengusaha?

Insentif yang diberikan pemerintah bagi pengembangan batu bara adalah struktur harga. Ini saja sudah cukup menjadi pemicu pengembangan batu bara, terlebih basis pemakaian meluas. Di bidang ketenagalistrikan, semakin banyak pembangkit yang menggunakan batu bara. Secara umum, jumlah pembangkit berbahan bakar minyak akan semakin dikurangi.

Pada tahun ini saja akan masuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cilacap 2 x 300 MW. Disusul PLTGU Cilegon dan PLTU Tanjung Jati B pada tahun 2007, semuanya berbahan bakar non-BBM. Selain itu juga tak sedikit industri yang mulai menggunakan batu bara. Untuk pemakaian batu bara di sektor rumah tangga tinggal menunggu waktu saja mengingat harga minyak tanah seperti sekarang.

Tetapi pemanfaatan energi alternatif selalu sulit dipraktikkan?

Menurut saya, paling sulit untuk dilakukan, penerapan energi alternatif di sektor transportasi. Transportasi akan menjadi sektor terakhir yang memanfaatkan energi alternatif karena sifatnya yang inelastis. Kalau kita mau mengembangkan batu bara sebagai BBM untuk kendaraan, harus melalui proses pencairan. Untuk batu bara cair, kita sedang siapkan di daerah Bangko, Sumatera Selatan. Namun, kita masih kesulitan mendapatkan investor meskipun sudah kita rencanakan membangun kilang BBM dari batu bara berkapasitas 125.000 barrel per hari.

Jadi, ke depan, konsep dasar pemanfaatan energi kita fokuskan pada sisi permintaan. Dulu Indonesia lebih memberatkan sisi suplai, bagaimana mengeksplorasi minyak, gas, dan batu bara. Sekarang kebijakan energi kita adalah mengedepankan diversifikasi dan konservasi energi. Semua itu bergantung pada partisipasi masyarakat.

Kenapa bahan bakar gas tidak berhasil padahal sudah dibangun SPBG?

Bahan bakar gas (BBG) itu kasusnya seperti briket. Pertamina sudah bangun SPBG (stasiun pengisian bahan bakar gas) di Jakarta, tetapi tidak jalan. Ada kekhawatiran konsumen kalau kehabisan BBG tidak segera bisa ditemukan. Itu tidak betul. Makanya sistem pembakarannya dibuat ganda. Kalau gasnya habis, ya ganti ke BBM. Namun, untuk itu terkendala pemakaian converter di mobil karena harganya mahal. Inilah yang masuk ke paket insentif kebijakan Menko Perekonomian dengan membebaskan bea masuk converter kit.

Tetapi, penggunaan bahan bakar alternatif memerlukan perubahan perilaku masyarakat. Dalam menggunakan BBG, misalnya, ada beberapa kasus yang membuat masyarakat trauma, seperti tabung yang meledak. Karena itu, perlu waktu mengubahnya.

Dari situ pemerintah sudah menarik pelajaran bahwa kebijakan yang bersifat top down itu tidak akan berjalan. Dulu sudah dibuat keppres-nya, lalu Pertamina dipaksa membuat SPBG. Tetapi, karena perilaku pemanfaatan energi masyarakat tidak berubah, kebijakan itu tidak jalan. Sekarang kita terapkan kebijakan top down, dibuatkan pilot project dengan penanggung jawab Departemen Perhubungan dan pemda. Mengenai penelitian biofuel, dari dulu penelitiannya sudah jalan. Bahkan, Pertamina dan ITB sudah membuat kerja sama penelitian soal energi alternatif dari biji jarak.

Akan tetapi, orang masih reluctant karena prinsipnya pasar tidak bisa dibohongi, pemakaian baru segmented. Akan tetapi, saya yakin, ke depan biofuel bisa jalan.

Jadi, kapan target peningkatan pemanfaatan energi alternatif dan bagaimana aksi riil pemerintah?

Kompor briket akan dikembangkan oleh UKM (usaha Kecil menengah) untuk kepentingan rumah tangga. Briketnya sendiri akan dimanfaatkan oleh industri secara besar-besaran. Tetapi, memang harus dilakukan secara bertahap karena dalam pengembangan energi alternatif masih ada penolakan. Misalnya, penolakan terhadap penggunaan energi panas bumi untuk pembangkit di Bali.

Nantinya, komposisi penggunaan energi itu adalah batu bara 32 persen, minyak bumi 26 persen, gas 30 persen, dan yang 5 persennya merupakan energi baru dan terbarukan, termasuk energi mikro, panas bumi, nuklir, dan tenaga angin. Memang ada yang bilang, kenapa hanya segitu? Lima persen saja sudah bagus sekali.

Kita ini serba ketinggalan. Sekarang semua kilang di dunia sudah bisa memproduksi BBM tanpa timbal sama sekali. Bahkan, begitu concern-nya dengan lingkungan, kilang di sana sudah mampu menghasilkan produk BBM yang oxygenated, sementara Indonesia ketinggalan jauh.

Kembali soal BBM, kapan kenaikan berikutnya dilakukan?

Saya tidak ingin buru-buru mengatakan apakah tiga-empat bulan ke depan, lihat dulu perkembangan. Apalagi di perpres- nya sangat luwes, hanya disebutkan penyesuaian BBM menuju harga keekonomian, bisa naik atau turun. Ini ibarat orang kecanduan yang distop tiba-tiba sehingga terjadi guncangan. Setiap malam saya selalu berdoa agar harga minyak mentah bisa turun.

Source : www.kompas.com