Pertamina memberikan batas toleransi harga elpiji Rp 55.000 per tabung sampai ke dapur konsumen.

Pertamina memberikan batas toleransi harga elpiji Rp 55.000 per tabung sampai ke dapur konsumen. Pertamina akan memberi sanksi tegas berupa pemutusan hubungan usaha (PHU) jika ada agen yang menjual elpiji melebihi batas toleransi tersebut.

Hal tersebut disampaikan Dirut Pertamina Widya Purnama dalam konferensi pers di Kantor Pusat Pertamina, Jalan Perwira, Jakarta, Selasa (11/10/2005).

‘Memang banyak agen yang mengeluh kepada kita soal biaya transportasi yang naik karena kenaikan harga BBM. Tapi kalau kita hitung-hitung, kenaikannya paling Rp 500-1.000 per tabung. Tapi kita memberi batas toleransi Rp 55.000 per tabung elpiji sampai ke dapur,’ kata Widya.

Sejumlah kilang yang semula tidak beroperasi karena mengalami perawatan atau turn around saat ini sudah mulai beroperasi. ‘Jadi masyarakat tidak perlu panik karena Pertamina akan terus memasok elpiji,’ tegas Widya.

Pertamina juga telah mengimpor elpiji sebanyak 5.400 metrik ton yang akan segera tiba. Impor elpiji diharap bisa menutupi kekurangan akibat berkurangnya pasokan dari kilang Pertamina seperti dari Balikpapan.

Menurut Widya, yang terjadi saat ini adalah beralihnya masyarakat dari minyak tanah ke elpiji sehingga permintaan terus meningkat. Padahal tidak ada kelangkaan.

‘Masyarakat tidak perlu panik karena sampai akhir tahun ini elpiji tidak akan naik. Tapi ini bukan berarti awal tahun 2006 harga elpiji akan naik. Kalaupun naik, kita masih menghitung dan melakukan sosialisasi,’ ujarnya.

Sumber : www.detikfinance.com