Dari keseluruhan kapasitas pembangkit sebesar 27.000 megawatt, yang menggunakan tenaga panas bumi baru sekitar tiga persen.

Meskipun energi panas bumi Indonesia melimpah, pemanfaatannya sebagai tenaga pembangkit masih sangat minim. Dari keseluruhan kapasitas pembangkit sebesar 27.000 megawatt, yang menggunakan tenaga panas bumi baru sekitar tiga persen.

Demikian dikemukakan Direktur Utama PT PLN Eddie Widiono, Selasa (11/10), seusai penandatanganan kerja sama proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Lahendong II di Jakarta. Pembangkit berkapasitas 20 MW itu didanai oleh Bank Pembangunan Asia (ADB). Menyedot dana 28,445 juta dollar AS, PLTPB yang berlokasi di Sulawesi Utara ini diharapkan bisa beroperasi pada Juni 2007.

”Pengembangan pembangkit geotermal agak lamban karena PLN selalu menunggu pihak yang memiliki panas bumi untuk mengembangkannya,” ujarnya.

Berdasarkan data Dirjen Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, tenaga panas bumi tersebar di seluruh Indonesia. Selama ini, pembangkit panas bumi dikembangkan oleh PLN, bekerja sama dengan Pertamina atau kontraktor kerja sama migas. Proyek yang sudah berjalan antara lain, PLTPB Gunung Salak, PLTPB Kamojang, dan PLTPB Wayang Windu. Menyusul kemudian, PLTPB Sarulla dan PLTPB Dieng Patuha.

”Sekarang kami tak mau menunggu, daripada nanti pembangkit geotermal tertunda seperti sejumlah pembangkit listrik yang diserahkan ke swasta, lebih baik PLN yang membangun sendiri,” kata Eddie.

Sebagai bagian bahan bakar fosil ke energi terbarukan, PLN menargetkan tahun 2008 kapasitas pembangkit bertenaga panas bumi meningkat dari 800 MW mencapai 2.000 MW. Direktur Pembangkitan dan Energi primer Ali Herman Ibrahim mengatakan, meskipun kecil tambahan 20 MW energi geotermal itu akan menghemat 50.000 kiloliter BBM dalam setahun.

Sumber : www.kompas.com