Kalangan industri semakin terjepit setelah PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menaikkan harga penjualan gas dan angkutan pipa gas (toll fee) sejak 15 Oktober.

Kalangan industri semakin terjepit setelah PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menaikkan harga penjualan gas dan angkutan pipa gas (toll fee) sejak 15 Oktober. Menteri Perindustrian (Menperin) Andung Nitimihardja pun minta PGN segera membatalkannya.

‘Ya kalau bisa (PGN) menahan dulu kenaikan-kenaikan itu,’ ujar Andung saat ditanya apakah dia akan meminta PGN membatalkan kenaikan harga gas usai mendampingi Presiden SBY menerima delegasi Japan External Trade Organisation (Jetro) di Istana Negara, Jakarta, Senin (17/10/2005).

‘Saya koordinasi dulu dengan Menneg BUMN dan Menteri ESDM. Saya sudah bicara dengan Pak Purnomo, seyogianya PGN jangan menaikkan dulu lah. Kita usahakan demikian. Mudah-mudahan berhasil. Kasihan kan UKM,’ ujar Andung.

Ia optimistis banyak industri yang akan diselamatkan dengan pembatalan kenaikan harga gas oleh PGN tersebut. ‘Oh, banyak dong. Kan gas itu ada yang sebagai bahan baku dan bahan bakar. Yang paling susah adalah yang menggunakan gas sebagai bahan baku, karena tidak bisa digantikan,’ kata Andung.

PGN sejak 15 Oktober mulai memberlakukan kenaikan harga gasnya. PGN mengaku terpaksa menaikkan harga jual gas karena harga beli gas bumi dari produsen sudah naik. Begitu pula dengan harga toll fee yang ikut naik akibat meningkatnya harga pipa baja.

Bahkan PGN juga berniat menaikkan lagi harga gas pada 1 Januari 2006, dengan besaran lebih tinggi dibandingkan tahap pertama ini.

Sumber : www.detikfinance.com